Highlight

EILEEN RACHMAN : Tetap Produktif, Tetap Berkarya

 

Memasuki sebuah gedung yang sedang dalam tahap penyelesaian akhir, tampak di sekeliling kami sebuah kantor yang berdesain modern minimalis namun serba efisien dan efektif, dan tentu saja nyaman. Kami memasuki ruang kantor seorang wanita yang luar biasa. Di usia

EILEEN RACHMAN : Tetap Produktif, Tetap Berkarya

nya yang ke-61, ia masih berkarya di bidang sumber daya manusia dan berbisnis furniture.

Siapa yang tidak pernah mendengar nama Eileen Rachman? Nama tersebut sudah identik dengan bidang sumber daya manusia. Tengok saja tulisan-tulisannya yang penuh inspirasi dan menyegarkan di salah satu harian nasional yang secara rutin muncul setiap minggunya. Belum lagi sejumlah buku yang telah ia tulis di sebuah penerbit besar di Indonesia. Ditemui di ruang kantornya yang berlokasi di bilangan Kemang, wanita kelahiran Bukittinggi ini menuturkan apa yang menjadikan dirinya begitu produktif hingga saat ini.

***

Anda telah dikenal sebagai pakar sumber daya manusia melalui begitu banyak tulisan dan buku Anda. Apakah Anda memang memilih bidang tersebut?

Sebetulnya waktu saya memilih bidang tersebut (bidang sumber daya manusia-red), saya tidak tahu persis ini bidang apa. Jadi saya lebih tepat dibilang ‘kejeblos’, terjebak di satu dunia di mana background saya tadinya adalah fakultas teknik, jurusan arsitektur di Universitas Indonesia. Jadi ketika itu saya berpikir untuk jadi arsitek.  Saya kuliah arsitektur di tahun 1968.

Kemudian karena saya menikah dan punya anak, akhirnya saya tidak meneruskan kuliah arsitektur. Kemudian ketika saya ingin berkarir, saya mencari fakultas yang agak mudah, yaitu psikologi. Di hari pertama saya belajar psikologi di Universitas Indonesia, saya tahu bahwa sebetulnya bidang ini bukan pilihan hati saya. Artinya, saya harus menghafal, saya harus banyak membuat tulisan. Tidak ada hitungan. Sehingga saya merasa bahwa ini bukan pilihan, tapi harus saya ambil. Karena saya sudah memilih, maka di hari itu juga saya berniat untuk bekerja dan kuliah dengan baik. Jadi saya kuliah serius sekali dengan 2 anak di rumah. Saya lulus hingga akhirnya menjadi dosen. Tapi kemudian saya juga mencoba bekerja di klinik, Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa.

Dan menurut saya, menghadapi manusia yang mentalnya sudah terganggu, itu buat saya lumayan frustrasi karena saat itu saya merasa kurang dibekali oleh terapi yang mumpuni, kecuali saya harus pergi ke luar negeri. Nah, ketika saya mendapat tawaran kerja di Lippo Group sebagai manajer sumber daya manusia, ya saya ambil.

Sejak itu saya kecemplung di bidang sumber daya manusia. Ya belajar menghitung gaji, belajar membuat sistem penggajian, membuat carrier plan, dll. Sejak itulah saya mulai menekuni bidang sumber daya manusia dan belakangan ini jadi tantangan tersendiri untuk saya.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di Majalah Bisnis EXCELLENT edisi Juni 2011.

tgh

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT