Highlight

IRWAN HIDAYAT : Memperjuangkan Obat Herbal Indonesia

 

Salah satu produk kebudayaan dan peradaban manusia di bidang medis adalah obat tradisional yang berbahan baku alami dari tumbuh-tumbuhan. Sifatnya pun sangat lokal karena tergantung dari tumbuh-tumbuhan apa yang terdapat di suatu daerah. Maka tid

IRWAN HIDAYAT : Memperjuangkan Obat Herbal Indonesia

aklah keliru jika obat herbal tradisional merupakan salah satu bentuk dari kearifan lokal.

Indonesia memiliki jutaan hektar hutan tropis, habitat bagi ribuan jenis tumbuhan dan hewan. Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia telah mengenal obat herbal yg dikenal sebagai jamu . Hingga kini, jamu masih terus eksis di tengah ramainya obat farmasi yang berasal dari kebudayaan dan peradaban dunia Barat.

Irwan Hidayat adalah salah satu pengusaha besar di bidang industri jamu yang terus mengupayakan keberadaan jamu agar diakui dan dianggap setara dengan obat farmasi. Ditemui di kantornya yang berada di bilangan Cipete, pria kelahiran Yogyakarta 23 April 1947 ini menuturkan keprihatinan dan tantangan yang harus ia hadapi sebagai produsen jamu di negerinya sendiri, Indonesia.


***
 

Sidomuncul telah menjadi salah satu produsen besar di Indonesia untuk produk jamu. Adakah tantangan yang masih harus Anda hadapi bersama Sidomuncul?

Tantangan utama industri jamu adalah sistim pelayanan kesehatan di negeri ini berkiblat ke dunia kedokteran modern. Di Indonesia tidak ada dokter jamu. Izin produksi dan izin edar yang diberikan hanya berdasarkan referensi, tidak ada uji klinis. Semua itu membuat jamu kurang mendapat kepercayaan dari masyarakat, padahal sebenarnya jamu sebagai obat sangat membantu untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Menyadari hal tersebut, 25 tahun yang lalu saya mulai melakukan penelitian. Ketika kami membangun pabrik yang baru di Ungaran,Semarang pada tahun 1997, kami membangun dengan standar farmasi, yang dilengkapi dengan laboratorium. Kami mulai melakukan uji klinis terhadap produk-produk kami. Kami bekerja sama dengan Universitas Diponegoro, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas Maranatha Bandung, dll. Hasil penelitian Tolak Angin ternyata aman untuk dikonsumsi secara terus menerus selama 212 bulan dan khasiatnya dapat meningkatkan daya tahan tubuh secara signifikan. 

Kemudian, tantangan lainnya adalah globalisasi.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di Majalah Bisnis Excellent, edisi 16, Juli 2011.

tgh

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT