Highlight

KAFI KURNIA : Sang Aktivis Kehidupan

Seseorang dapat dikenali dari ciri fisiknya. Kafi Kurnia bisa dikenali dari rambutnya yang berdiri ke atas. Lebih dari itu, ia juga dikenal dari pemikiran-pemikirannya yang tertuang dalam bentuk tulisan di majalah Gatra.

 

Bertemu dengan seorang Kafi K

KAFI KURNIA : Sang Aktivis Kehidupan

urnia seakan memberi suasana segar yang menggoyang cara berpikir kita yang cenderung mencari kepastian dan kemapanan. Obrolan yang santai namun juga mendorong daya pikir mampu menghadirkan insight-insight baru yang mencerahkan pemikiran kita. Salah satu hal yang mewarnai obrolan dengannya adalah gaya bahas yang lugas dan to the point seakan membawa kita untuk berpikir secara jernih dan jujur.

Pengalamannya di berbagai asosiasi bisnis di Indonesia serta menjalankan bisnisnya sendiri telah menjadi bekal yang sangat memadai bagi seorang Kafi untuk mengadakan training, workshop di berbagai perusahaan.

***

Salah satu buku Anda yang berbeda dari buku-buku di bidang bisnis adalah “Anti Marketing.” Apa yang hendak Anda sampaikan melalui buku itu?

Menurut saya, kita perlu memiliki pemikiran yangterbuka. Sekarang saya tanya, ‘suka dulu baru cocok’atau ‘cocok dulu baru suka’? Marketing itu bisa kedua-duanya.Anda bisa pilih‘cocok dahulu baru suka.’Tapi kalau pilih ‘suka dulu baru cocok’ jugabisa.

Sayamaumembuka segala kemungkinan. Kalau selama ini ada marketing, ya ada juga anti marketing. Seperti di bidang fisika pun ada ‘massa’ dan ada ‘anti massa.’Kenapa kita harus berpikir hanya adamarketing? Kenapa tidak berpikir anti marketing?

Jadi yang saya selalu usahakan adalahmengkampanyekan bahwa kita sebagai bangsa harus memiliki pikiran yang sangat terbuka. Open minded. Bahwa dalam bisnis, dalam karirituada banyak kemungkinan. Kita tidak bisa melihat sesuatu hanya dari satu kemungkinan. Tapi ada kemungkinan-kemungkinan lain.

Saya sendiritipe orangyangseperti itu. Saya tidak pernah meng-under estimate terlebih dahulu. Itu yang menjadi kunci sukses saya. Kenapa? Karena saya melihat bahwa di segala arah dan di berbagai arah terdapat banyakkemungkinan-kemungkinan. Bagi saya, tidak pernah ada dalil yang pasti. Kenapa? Karena masih ada kemungkinan.

 

Apa yang membuat kemungkinan sekecil apa pun dapat terjadi?

Segalanya bisa terjadi, tergantung dari situasi dan suasananya. Jadi bisa saja ada orang yang mengerjakan sesuatu bilang, “Ah, kalau kagak aman(save), guekagak mau kerjain.” Jadi ada orang yang bekerja hanya dengan situasi dan kondisi misalnya 80% aman, risikonya hanya 20%, baru ia kerjakan.

Tapi ada orang yang bisa mengerjakan itu walau risiko kegagalan sangat besar, misalnya 90%. Ia tetap kerjakan. Kenapa? Karena ia percaya kepada kemungkinan yanghanya10% itu.

 

Bukankah bisnis itu adalah sepenuhnya kalkulasi yang dapat diperhitungkan?

Dunia bisnis itu memang penuh dengan kalkulasi. Salah seorangorang filsuf mengatakan,“Ketika kita adalah bagian dari mayoritas, kita harus melakukan revolusi.”Mengapa? Karena kita tidak ada harmonisasi. Ketika semua orang sudah menjadi mayoritas, dan belum tentu yang mayoritas itu yang benar, maka kita harus melakukan revolusi. Dan itu yang terjadi di Lybia, di Mesir. Ketika semua orang menjadi mayoritas, ada sebagian orang yang menjadi minoritas mengatakan, “This is not right. Let’s revolution.”

Nah,dengan cara berpikir seperti itu, maka tidak ada lagi kemungkinan yang tidak terukur.Tidak ada lagi kemungkinan yang tidak bisa kita manfaatkan.

Dengan cara seperti itu saya mengajarkan murid-murid, mahasiswa, trainer yang saya bimbing bahwa selama Anda masih membuka pintu untuk kemungkinan sekecil apa pun, segala sesuatu dapatterjadi. Jadi tidak ada vonis yang mengatakan,”Ini sudah gagal.”

 

 

Artikel selengkapnya dapat Anda temukan di Excellent Business Magz, edisi Oktober 2011.

tgh

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT