Highlight

Tubagus Fiki: Kreativitas dan Komunikasi dengan Pelanggan

Bermula dari kesenangannya mengkoleksi poster-poster pesawat terbang, Tubagus Fiki Chikara, pemilik Airplane System, yang kala itu masih bersekolah dasar sudah menjual poster-poster koleksinya kepada teman-teman sekolah. “Waktu itu harganya cuma 200 Rupiah untuk 10 poster,

Tubagus Fiki: Kreativitas dan Komunikasi dengan Pelanggan

” ujarnya mengenang pengalaman menjualnya.

 

Memasuki masa pendidikan menengah, pria yang akrab dipanggil Fiki Satari ini mulai membuat seragam olah raga, seragam kelas. Pada jenjang pendidikan berikutnya, pebisnis yang juga menjadi dosen di Universitas Padjadjaran, Bandung ini membuka warnet bersama teman-temannya di daerah Dago, Bandung. “Waktu itu modal kami cuma CPU dari masing-masing komputer kami di rumah,” katanya.

Kini ia adalah pemilik Airplane System, sebuah merek di bisnisclothing yang telah berhasil memasarkan produk-produknya di seluruh Indonesia dan sejumlah negara di Asia dan Eropa.

Bagaimana ia mendirikan bisnisnya dan membangun jaringan bisnisnya hingga ke luar negeri? Berikut adalah wawancara EXCELENT BUSINESS MAGZ dengan Tubagus Fiki Chikara Satari.

***

Mengapa Anda memilih bisnis clothing?

Tahun 1998, mulai ada kawan yang ajak saya untuk bangun usaha bersama. Ada beberapa teman yang juga desainer. Awalnya cuma sih modal kecil saja. Dulu itu hanya karena demi pergaulan saja. Kan keren ya mahasiswa sekalian berbisnis. Tapi dulu itu saya belum sampai ada pemikiran bisnis yang serius dan terencana hingga jadi besar. Waktu itu saya kuliah tingkat akhir, semester 7.

Kenapa saya pilihclothing? Ya karena dulu itu faktor pergaulan. Dulu gaya hidup anak muda di Bandung adalah ngeband. Anak-anak band itu biasanya pakai baju yang ada gambar gitar, grup band luar negeri, dll. Baju-baju yang mereka gunakan biasanya dari luar negeri. Nah, saat terjadi krisis keuangan di tahun 1998, Rupiah anjlok. Baju-baju semacam itu tidak terbeli lagi karena mahal sekali harganya.

Akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk membuat baju sendiri. Dari situ, ada teman-teman lain yang tertarik dengan baju buatan kami. Jadilah mereka pembeli pertama produk kami. Dan waktu itu ternyata hasilnya lumayan. Saya baru buka toko pada tahun 2001, meski masih berstatus kontrak karena memang modal masih kurang untuk punya toko sendiri.

Saya sendiri mengatakan bahwa saya ini beruntung (lucky) dari awal mula saya memulai usaha ini. Dari keisengan, tak disangka mendapat orang yang tertarik dengan baju buatan saya dan ternyata hasilnya dari situ lumayan. Semua sambil belajar, trial and error.

 

Baca artikel lengkapnya di EXCELLENT BUSINESS MAGZ Edisi Mei 2012

Tubagus Fiki

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT