Highlight

Dwiki Dharmawan: Tanpa Pinjaman dari Bank, Farabi Kian Sukses

Mengambil alih perusahaan yang sudah terpuruk memanglah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu dirasakan oleh musisi kenamaan Indonesia, Dwiki Dharmawan saat mengambil alih Lembaga Pendidikan Musik Farabi.

 

Lembaga Pendidikan Musik Farabi a

Dwiki Dharmawan: Tanpa Pinjaman dari Bank, Farabi Kian Sukses

walnya didirikan oleh Roelly Boediono seorang gitaris klasik tahun 1979. Namun, tahun 1990 Farabi mengalami keterpurukan, sehingga di awal tahun 1996, Dwiki mengambil alih Farabi. Padahal sejak awal Farabi berdiri, Farabi sudah menjadi barometer dan mencetak pemusik-pemusik handal di Indonesia, bahkan internasional.

Ketertarikan Dwiki mengambil alih Farabi lantaran sekitar tahun 1990, terjadi gap antara musisi senior dan junior. Padahal pada era tersebut merupakan masa perkembangan, di mana terjadi gempuran budaya popular, termasuk musik, sangat besar. Untuk itu Dwiki ingin mengimbangi dengan mendirikan lembaga pendidikan, sehingga anak muda yang bertalenta mempunyai skill, dan saat mereka terjun ke dunia musik, mereka lebih bertanggung jawab secara artistik. “Banyak kemunculan pemusik secara instan, bukan secara skill bermusik. Dari situ, saya timbul kegelisahan, sehingga saya ingin memberikan sumbangsih bahwa Indonesia punya musisi handal yang tidak hanya mengandalkan lipsync maupun wajah,” ungkap Dwiki saat ditemui EXCELLENTBUSINESSMAGZ di kediamannya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

            Langkah awal yang dilakukan Dwiki saat mengambil alih Farabi, yakni mengembangkan silabus, program-program, maupun networking-nya. Bahkan hingga kini Farabi sudah berkembang hingga 10 cabang yang sudah tersebar di Jakarta, Surabaya, Medan dan Denpasar.

            Dalam membangun Farabi, Dwiki mempunyai motto “Talent is Not Enough.” Artinya, bakat saja tidak cukup. Sebab, dalam bidang apapun jika seseorang tidak mengasah bakatnya, maka ia tidak akan berhasil. Misalnya, jika ia mempunyai bakat musik, ia tidak akan menjadi seorang pemusik yang handal jika bakatnya tersebut tidak diasah dengan penuh kerja keras.

“Untuk visi misi, saya ingin turut serta memberikan sumbangsih kepada bangsa melalui pendidikan musik. Dengan sendirinya kita sebagai warga bangsa bisa memberikan sumbangsih dan ikut membangun bangsa melalui musik sehingga tanpa terasa sudah mencetak puluhan musisi handal,” ujar suami Ita Purnamasari ini.

            Sumber daya manusia yang melimpah, manajemen yang belum tertata, sistem perekrutan guru, serta tidak mempunyai modal kerja menjadi kendala awal Dwiki pertama kali saat menjalankan dan menata ulang Lembaga Pendidikan Musik Farabi. Salah satu yang menjadi kendala utama Dwiki saat itu adalah dana segar untuk modal kerja. Dwiki mengawali semua tanpa sepeserpun modal dari bank. Sebab, beberapa kali Dwiki berbicara dengan bank, pihak bank menolak memberikan pinjaman. Alasan dari pihak bank, karena tidak adanya asset. Dengan modal seadanya, Dwiki hanya membuka dua kelas, sehingga kelas tersebut digunakan secara bergantian. “Jadi saya mulainya dengan modal dengkul,” beber Dwiki yang juga salah satu pendiri dan anggota Krakatau Band.

            Secara perlahan namun pasti Dwiki mengajak para akademisi, praktisi musik dan sang istri, Ita Purnamasari untuk bahu membahu membenahi Farabi, meski dengan modal seadanya. Akhirnya Farabi mampu membeli properti yang digunakannya sebagai kantor pusat Farabi yang terletak di Jl Dharmawangsa XI/5.

 

Artikel selengkapnya bisa Anda baca di EXCELLENT BUSINESS MAGZ edisi Juni 2012

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT