Highlight

Merry Riana: Wanita Mimpi Sejuta Dolar

Apa hubungan antara kerusuhan 1998 dengan penghasilan satu juta dollar? Bagi Merry Riana, tentu keduanya punya benang merah yang sangat kuat. Mengungsi dan melanjutkan studi di Singapura akibat kerusuhan itu, membuat profesional muda ini memiliki penghasilan satu juta dollar. Angka fantastis y

Merry Riana: Wanita Mimpi Sejuta Dolar

ang diperolehnya di usia 26 tahun.

Karenanya, dia pun kemudian dipublis oleh banyak media di Singapura, Indonesia dan beberapa negara ASEAN lainnya. Setelah itu, mulai banyak perusahaan dan institusi yang menghadirkannya untuk menjadi pembicara. "Mereka menginginkan saya untuk berbagi pengalaman tentang kisah nyata perjuangan saya itu. Pada awalnya, saya bahkan menjadi Pembicara tanpa dibayar, karena saya memang sangat bersemangat untuk menciptakan dampak positif kepada banyak orang," ujarnya kepada Exelent.

            Bagi wanita kelahiran Jakarta, 29 Mei 1980 ini, punya alasan kuat untuk memilih bidang inspirasi dan motivasi ini. ‘’Tujuan saya adalah membangkitkan generasi baru yang sukses, yang bertanggung jawab atas kehidupan mereka, hidup sesuai dengan impian mereka, dan pada akhirnya, memberikan kontribusi kembali ke masyarakat,’’ ujarnya memberi alasan.

 

Manuver Ke Singapura

Ketika masih di Jakarta, ibu satu anak ini termasuk orang yang biasa-biasa saja. Kehidupan itu berubah setelah kerusuhan yang melanda ibukota pada tahun 1998. Pada tahun itu, dengan alasan keamanan Merry pun harus melanjutkan pendidikannya di negeri Singa, tepatnya di Nanyang Technological University. ‘’Di Singapura biayanya lebih murah dari Amerika Serikat atau Eropa, dan mendapatkan bantuan kredit dari bank pemerintah Singapura pula,’’ ujarnya.

            Keprihatinan pun mulai akrab dengan kehidupan sehari-harinya. Dengan uang yang sangat terbatas, istri dari Alva Tjendarasa ini pun harus berakrobat dengan uang 10 dollar Singapura yang digunakan untuk satu minggu. Minum air kran dan hanya makan roti tawar dan mie instan sudah menjadi menu wajibnya selama setahun pertama agar dapat makan dan minum dengan kenyang.

            Dalam situasi sulit itu dia kemudian melayangkan visi yang sangat kritis ke depan. ‘’Bagaimana masa depan saya? Bagaimana saya akan memapankan diri jika setelah bekerja gaji tersedot untuk membayar hutang pendidikan? Bagaimana saya bisa membahagiakan orang tua jika waktu akan habis digunakan untuk bekerja keras guna membayar cicilan hutang?’’ pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memotivasi Merry untuk bangkit maju ke depan.

            Kondisi itu kemudian memacu sarjana teknik elektro ini untuk berpikir keras, bekerja keras, mencari jalan untuk mencapai harapan yang terbesar yakni, menuju kebebasan finansial di usia 30 tahun. Merry pun mulai mencoba beberapa pekerjaan, mulai dari penyebar brosur biro jodoh, bekerja di florist sampai jadi pelayan hotel. Ketika tabungan sudah dimiliki, dia juga mencoba beberapa bisnis. Mulai dari mencoba mengembangkan bisnis MLM sampai jual beli saham. Beberapa bisnis yang dicobanya  gagal. Sampai akhirnya dia memilih bidang financial consultant.

            Saat Merry memulai karirnya sebagai seorang penasihat keuangan, ia harus bergulat dengan sejumlah tantangan dan hambatan. Orang tuanya, dosen dan teman-temannya kurang setuju dengan keputusan yang diambil oleh Merry tersebut.

            Merry yang saat itu belum memiliki kemampuan berbahasa Mandarin, padahal lebih dari separuh penduduk Singapura adalah etnis China. Sebagai seorang pendatang asing disana, pengalaman dan relasi Merry sangat terbatas.

            Alasan yang membuat Merry pantang  menyerah adalah usianya yang masih muda dan masih lajang, sehingga ia merasa lebih bebas dan lebih berani mengambil resiko. Tanpa perlu merasa terbebani denga kemungkinan gagal atau keharusan untuk berhasil, Merry lebih memilih untuk memfokuskan diri pada pengalaman dan pelajaran yang ia bisa dapatkan selama fase-fase awal karirnya.

Merry akhirnya menemukan panggilan jiwanya untuk bergabung dengan Prudential Assurance Company sebagai penasihat keuangan. Dalam enam bulan pertama karirnya di Prudential, Merry berhasil melunasi utangnya sebesar 40 ribu dolar Singapura.

 

Artikel selengkapnya bisa Anda baca di EXCELLENT BUSINESS MAGZ edisi Juni 2012

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT