Highlight

Di Balik Bisnis Ferry Salim

Selain dikenal sebagai artis dengan talenta yang bagus, kini banyak orang yang mengenal Ferry Salim sebagai pengusaha resto. Shabu Slim, resto miliknya yang kini memiliki dua gerai di Jakarta, yaitu di Kelapa Gading dan Central Park, mulai menjadi resto yang diperhitungkan. Sebentar lagi, rest

Di Balik Bisnis Ferry Salim

o dengan menu utama sushi dan shabu-shabu ini segera membuka gerai ketiganya di Mall Casablanca.

Diakui oleh Ferry, bisnis yang dirintisnya memang didasari oleh hobynya yang suka makan, sehingga ia berani menceburkan diri di bisnis kuliner ini. Tetapi, pilihan Ferry untuk terjun ke dunia entrepreuner, meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagai seorang artis, merupakan pilihan yang didasari motif yang cukup mulia. Menurutnya, dengan ikut terjun ke dunia entrepreneur, ia berharap bisa ikut membantu pemerintah menyediakan lapangan kerja.

“Saya tahu bahwa di Indonesia ini masih kekurangan banyak sekali entrepreneur. (Entrepreneur) kita tidak sampai 1%. Padahal idealnya setiap Negara itu memiliki pebisnis sampai  7%. Jadi banyak sekali (kita) kekurangan entrepreneur. Kalau semakin banyak entrepereneur, tentunya bisa menciptakan banyak lapangan kerja.

“Jadi, saya berusaha membantu program pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja, itu yang pertama. Dan yang kedua, memang saya hobi untuk membuat bisnis. Ketiga ini untuk masa depan saya, kalau misalnya suatu saat saya sudah tua, saya sudah punya bisnis,” ungkap lelaki kelahiran 8 Januari 1967 ini.

Sebelum merintis bisnis resto, Ferry memulai debut bisnisnya dengan mendirikan butik dengan merek Rofus. Butik ini menyediakan pakain batik. Selain butik dan resto, Ferry juga memiliki bisnis animation company, yang banyak bergerak di bidang periklanan.g

“Di animation company ini, kita bikin special effect 3D. kemudian animation lebih banyak ke iklan sih sebetulnya,” ungkap ayah dari Barndon dan Brenda ini.

Serius di Bisnis Kuliner

                Ketertarikan Ferry terhadap bisnis resto memang tidak bisa dilepaskan dengan hobynya makan. Selain itu, Ferry juga pernah identik dengan program kuliner di televisi. Jauh sebelum televisi berlomba-lomba membuat program kuliner, Fery sudah menjadi host di program serupa selama 3 tahun di Antv dan 1 tahun di Trans-tv. Boleh dibilang, sosok Ferry merupakan salah satu pioneer host program kuliner di televise tanah air. Maka tidak heran jika bisnis kuliner menjadi salah satu obsesi yang telah lama terpendam dalam dirinya.

                Restoran yang dilaunching pada tanggal 8 Februari 2010, beberapa hari sebelum Hari Raya Imlek itu, menyajikan beragam masakan khas Jepang, seperti sushi dan shabu-shabu. Konsep restoran ini adalah all you can eat and drink, yaitu bayar sekali, sudah bisa makan semua jenis makanan dan minuman yang tersedia. Tersedia lebih dari 100 jenis makanan di restonya, mulai dari shabu, aneka fush dan sushi, desert, ice cream dan buah-buahan, ice cream dan beragam  beverages.

Soal harga, Ferry menerapkan dua jenis harga yang berbeda, yaitu untuk anak-anak dan dewasa. Uniknya, untuk menentukan kategori anak-anak atau dewasa Ferry tidak memakai batasan usia atau umur, melainkan tinggi badan. Anak yang tingginya di bawah 120 cm termasuk dalam kelompok harga anak-anak. Sedangkan yang tingginya lebih dari 120 cm, sudah dicarge harga dewasa.

                Ferry sendirilah yang menciptakan brand atau nama untuk restonya, Shabu Slim. Shabu tentu saja menunjuk pada jenis makanan utama yang ia jual, sedangkan Slim menurutnya memiliki dua arti.

“Kalau slim itu artinya ada 2 konotasi. Yang pertama,  singkatan dari nama belakang saya, Salim. Kemudian yang kedua, kalau orang dua minggu berturut-turut makan shabu-shabu, pasti badannya akan slim (langsing).” Ungkap Ferry.

Cara menghidangkan makanan di resto ini memakai konsep  rotaring conveyor yang dijalankan dengan system conveyor belt. Jadi pengunjung tinggal memilih makanan yang berputar mengelilingi meja mereka. Ferry berani mengklaim restonya sebagai resto shabu-shabu pertama yang  menggunakan conveyor belt, bahkan di gerai resto yang terakhir, panjangnya conveyor belt mencapai 80 meter.

Keunikan lain dari Shabu Slim ini adalah ditetapkannya batasan waktu. Dan konsep ini bisa dibilang yang pertama di tanah air. Pengunjung yang datang dipersilahkan mencicipi makanan apa pun yang tersedia sepuas mereka. Hanya saja, mereka Cuma diberi waktu satu setengah jam untuk makan disana. Waktu satu setengah jam adalah waktu ideal atau waktu rata-rata yang biasanya dihabiskan orang untuk makan di restoran.

Selain beberapa keunikan dari konsep restonya seperti disebutkan diatas, Ferry juga sangat matang menyiapkan bisnis restonya ini, sehingga ia tidak sembarangan dalam memilih perlengkapan di restonya. Semuanya disesuaikan dengan kenyamanan pelanggannya.

“Semua kompornya saya menggunakan electric coocker. Walaupun saya bayar listriknya pasti lebih mahal, tapi paling penting bagi saya adalah kenyamanan pelanggan. Karena tidak berbahaya, tidak berbau dan tidak kotor. Kemudian panic yang saya gunakan itu menggunakan hit protector.  Jadi kalau kuahnya lagi panas, tapi bila dipegang itu tidak akan membakar tangan kamu,” ucap Ferry berpromosi.

Ferry memang serius mengelola bisnis restonya. Menurutnya selain kebersihan dan rasa yang harus teruji, pemilihan lokasi juga merupakan salah satu aspek yang tidak bisa diabaikan dalam bisnis resto. Maka tidak heran jika Ferry hanya membuka gerainya di lokasi-lokasi terbaik atau Ferry menyebutnya sebagai lokasi yang prime, seperti di Central Park Jakarta Barat, Mall Kelapa Gading dan Mall Cassablanca.

 

Artikel selengkapnya dapat di baca di EXCELLENT BUSINESS MAGZ Edisi Juli-Agustus 2012

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT