Highlight

Dibalik HOKI Konglomerat Orde Baru

Liem Sioe Liong adalah salah satu tokoh konglomerat yang paling terkenal pada masa kejayaan orde baru. Maklum, lelaki keturunan Tionghoa ini dikenal sebagai pengusaha yang paling dekat dengat Soeharto, penguasa orde baru. Bahkan karena kedekatannya itulah Liem boleh dibilang mendapat banyak fa

Dibalik HOKI Konglomerat Orde Baru

silitas yang membuat bisnisnya menjulang dan beranak pinak, dari hulu hingga ke hilir.

Nasib dan bisnis Liem di Indonesia ternyata pada akhirnya mengikuti garis tangan Soeharto juga.  Begitu Soeharto tersingkir dari kursi kekuasaannya tahun 1998, Liem terpaksa harus hengkang dari Indonesia, karena rumahnya di Jalan Gunung Sahari, Jakarta dijarah massa. Massa yang beringas mengambil apa saja yang ada di rumah Liem. Bahkan sebuah bingkai foto besar bergambar Liem dan isterinya digotong keluar rumah dan dibakar di tengah jalan. Ini menunjukkan bahwa massa mengidentifikasi sosok Liem sebagai antek atau orang dekatnya Soeharto.

Bukan hanya rumahnya yang mengalami nasib memilukan. Gurita bisnis yang dibangunnya selama masa pemerintahan orde baru, harus rontok ditelan krisis ekonomi tahun 1998, tahun yang sama dengan kejatuhan Soeharto. Liem terpaksa harus menyerahkan sekitar 108 perusahaan miliknya kepada pemerintah guna membayar utang Rp52,7 triliun, termasuk juga BCA.

            Peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang memprakporandakan seisi rumahnya itu meninggalkan trauma di hati Liem. Ia pun terpaksa harus menyingkir ke Singapura dan melanjutkan hidup dan mengelola bisnisnya dari negeri jiran itu. Di negeri singa inilah Om Liem menghabiskan masa-masa tuanya bersama keluarganya, hingga akhirnya ia tutup usia pada tanggal 10 Juni 2012, di usianya yang ke 97 tahun, setelah mengalami sakit dalam waktu yang cukup lama.

 

Lari dari Kampung Halaman

Liem Sioe Liong lahir 10 September 1915 di Futching, Provinsi Fujien, Tiongkok Selatan. Liem lahir sebagai anak kedua dari keluarga petani di Desa Ngu Ha, Hai Kou. Sejak kecil, Liem sudah menjadi yatim. Ketika usia Liem menginjak 11 tahun, kakaknya, Liem Sioe Hie, meninggalkan Tiongkok dan merantau ke Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia waktu itu).  Ia menetap di Probolinggo dan akhirnya menetap di Kudus.

Di kota Kudus itu dia memiliki paman bernama Liem Kiem Tjai, yang cukup sukses mendirikan pabrik kecil. Pabrik itu bergerak dalam bidang pembuatan dan penjualan minyak kacang.

Sepeninggal sang kakak, Liem muda menjadi tumpuan keluarganya di Tiongkok. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Pada tahun 1938, Tiongkok diguncang perseteruan antara kaum Komunis dan Nasionalis. Kekisruhan kian menjadi-jadi setelah Jepang melancarkan serangan ke daratan Cina, menghancurkan kota-kota yang didatanginya dan menjarah isinya, serta melakukan penindassan dan perkosaan atas penduduknya. Jepang bahkan berhasil menduduki Beijing. Di tengah kekacauan itu Liem memilih merantau, meninggalkan kampung halaman dan keluarganya. Ia bertekad menyusul kakaknya yang sudah terlebih dulu merantau ke Hindia Belanda.

Perjalanan Liem dari kampung halamannya menuju Hindia Belanda bisa dibilang merupakan perjalanan yang sangat berat. Nyawanya bisa melayang kapan saja, di tengah situasi daratan Cina yang sedang kacau. Belum lagi, perjalanan laut yang tidak sebentar, dengan kapal kecil yang sewaktu-waktu bisa dihempas badai di Laut Cina selatan.

Liem berangkat dari pelabuhan Hai Kou, bertolak menuju Xiamen. Dan dari sana ia mengarungi lautan Cina Selatan yang luas dengan menumpang kapal milik perusahaan Belanda, JCJL. Saat itu umurnya baru 23 tahun.

Rupanya nasib baik berpihak kepada Liem, dia berhasil mendarat di Surabaya dengan selamat. Dia berharap kakaknya sudah menunggu untuk menjemputnya. Celakanya, ternyata sang kakak tak tampak di dermaga. Karena tak ada yang menjaminnya di tanah yang baru ini, dia pun ditahan imigrasi. Ia tidak boleh keluar pelabuhan selama empat hari. Dia hanya mondar-mandir di wilayah pelabuhan dan makan seadanya.

Persis pada hari keempat, kakaknya datang ke pelabuhan. Dua kakak beradik ini berpelukan dalam suasana yang haru. Mereka berbagi kabar dan bertangis-tangisan. Liem  dibawa kakaknya ke Kudus, tempat pamannya yang sukses mendirikan pabrik pembuat minyak kacang. Di pabrik kecil milik pamannya inilah Liem bekerja. Setelah itu, ia pindah dan bekerja mengelola tahu dan kerupuk. Usahanya ini cukup berkembang dan membuatnya bisa belajar berdagang dan memproduksi sesuatu.

Di kota ini, Liem jatuh cinta kepada anak tetangga pamannya yang bernama Lie Las Nio yang kerap disapa Lilani. Mereka menikah tak lama setelah Jepang masuk ke Indonesia menggantikan Belanda yang melarikan diri dari bumi Hindia Belanda. Pernikahan Liem-Lilani ternyata membawa hoky atau peruntungan yang baik bagi pasangan ini. Usahanya bertambah maju dan Liem pun mulai merambah ke bisnis perdagangan tembakau dan cengkeh. Ia memasukkan cengkeh ke pabrik-pabrik rokok di kudus.

Perkenalannya dengan Tentara

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Belanda kembali masuk ke Indonesia dengan membonceng tentara sekutu. Kehadiran kembali Belanda mendapat tentangan keras dari tentara kita. Saat Belanda masuk, Liem mendapat amanat dari tentara republik untuk menjaga orang penting yang tengah dicari intel Belanda. Orang penting itu adalah Hassan Din, ayah dari Fatmawati dan mertua Presiden Soekarno.

Melalui Hassan Din inilah Liem Sioe Liong berkenalan dengan beberapa pimpinan tentara republik di Jawa Tengah. Dari sinilah dia menjadi pemasok makanan, pakaian dan obat-obatan.  Usaha Liem kian kokoh pada tahun 1950-an saat ia menjadi pemasok tetap kebutuhan Divisi Dipenogoro, Jawa Tengah. Ketika itu Soeharto  menjadi Panglima Dipenogoro. Dari situlah kedekatan Liem dan Soeharto terjalin.

Berkibar di Masa Orde Baru

                Pada tahun 1950-an, Liem pindah ke Jakarta. Di ibukota inilah Liem membangun kerajaan bisnisnya dari sebuah kantor di daerah Asemka, Kota. Bisnisnya makin berkibar setelah terjadinya peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Maklum, Sudah menjadi rahasia umum, Liem memiliki hubungan yang cukup dekat dengan  Soeharto. Hubungan itu kian lekat setelah Soeharto menjadi Presiden RI kedua setelah krisis politik tahun 1965. Selama periode ini, Liem Sioe Liong mengadopsi nama Indonesia Sudono Salim. 

 

Artikel selengkapnya bisa dibaca di EXCELLENT BUSINESS MAGZ edisi Juli-Agustus 2012.

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT