Highlight

Sigit Pramono: Pasar Domestik Perbankan Kita Luar Biasa Besar

Namanya begitu terkenal di dunia perbankan Indonesia. Bukan semata-mata karena ia mengetuai organisasi perbankan, yaitu Perbanas (Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional), tetapi lebih kepada karier dan reputasinya yang cemerlang di dunia perbankan tanah air.

 

Sigit Pramono: Pasar Domestik Perbankan Kita Luar Biasa Besar

Sigit Pramono,   lahir di  Batang, 14 November 1958, adalah seorang bankir yang telah teruji kemampuanya dalam memimpin beberapa bank nasional, bahkan beberapa diantaranya adalah bank yang bermasalah pada waktu itu. Sehingga banyak orang yang menjulukinya “Dokter Spesialis Bank Bermasalah,” Ketika EXCELLENT BUSINESS MAGZ meminta pendapatnya tentang julukan itu, Sigit hanya merendah. “Itu sih tugas aja. Yang memberi istilah itu kan wartawan,” ujarnya singkat.

Sigit Pramono meniti karir dari bawah. Laman tokohindonesia.com menyebutkan, Sigit mulai berkarir di Bank Exim sejak 1984 sebagai officer di Cabang Semarang (1984 - 1985), Assistant Manager pada Domestic Banking Division (1985 - 1987), Assistant Manager pada Treasury & International Banking Division (1987 - 1988) serta pernah menduduki jabatan-jabatan penting lainnya yaitu sebagai Head of Loan Syndication Department (1997-1998) dan Head of Loan Remedial Division (1998-Maret 1999).

Jabatan lain yang pernah dipegang adalah sebagai Vice President Director Bank Merincorp (1993-1997), Vice President Director PT Merchant Investment Corporation (1992-1993), Komisaris PT Bank Merincorp Securities (1992-1993), dan Direktur PT Exim Leasing.

Ketika krisis keuangan melanda Indonesia tahun1997, lelaki yang hobby fotografi ini kembali ke Bank Exim. Dia ditugaskan untuk menangani sindikasi dan divisi penyelamatan kredit Bank Exim. Tugasnya makin berat ketika Bank Exim terpaksa melakukan merger bersama empat bank pemerintah lainnya, yaitu PT Bank Bumi Daya (BBD), PT Bank Dagang Negara (BDN), dan PT Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), dan menjadi bank baru dengan nama PT Bank Mandiri.

Disini, tugas utama Sigit cukup berat, yaitu menangani restructuring unit. Ia harus menangani 70% - 80% portofolio kredit yang perlu direstrukturisasi, yang merupakan gabungan kredit dari empat bank yang baru merger itu.  Bukan itu saja. Sigit juga harus menangani sekitar 615 debitur korporasi besar yang harus direstrukturisasi kreditnya, serta puluhan ribu kredit menengah dan kecil. Oleh karena waktu itu adalah masa awal krisis, portofolio Bank Mandiri mayoritas adalah kredit bermasalah.

Dengan kerja keras dan kemampuannya dalam bernegosiasi dengan para debitur, membuat ia sukses menangani masalah restrukturisasi di bank Mandiri, dan ini ternyata menjadi nilai plus bagi reputasinya di dunia perbankan, sehingga tidak heran jika ia kemudian dipercaya menangani beberapa bank bermasalah lainnya, seperti Bank Internasioanl Indonesia pada tahun 2002-2003, kemudian BNI pada tahun 2003.

Ketika diangkat sebagai Direktur Utama BNI pada tahun 2003, bank tersebut baru saja menjadi sorotan publik akibat   kasus pembobolan BNI melalui letter of credit/LC senilai Rp1,7 triliun di BNI cabang Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pada tahun 2006, Sigit dipercaya para bankIr menjadi Ketua Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) hingga sekarang ia sudah menjabat selama dua periode di organisasi paling bergengsi di dunia perbankan tanah air. Sejak 2008, ia diangkat sebagai Komisaris Independen Bank BCA.

Ketika pemerintah (panitia seleksi ) membuka pendaftaran untuk calon  dewan komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK),beberapa bulan yang lalu, banyak pihak yang berharap Sigit mau mendaftarkan diri  sebagai dewan komisioner lembaga yang baru itu, tetapi rupanya Sigit memilih tidak mendaftar. Ia mengaku lebih memilih indepen seperti sekarang ini.

“Saya tetap akan memimpin Perbanas sampai kongres berikutnya, dan akan mengambil sikap tetap menjaga indipendensi terhadap regulator,” ujarnya sebagaiman dikutip infobanknews.com

Berikut ini wawancara EXCELLENT BUSINESS MAGZ dengan Sigit Pramono, di sela-sela buka bersama dalam acara Seminar mengenai Revisi UU Perbankan, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Bagaimana tanggapan Anda tentang rencana revisi Undang-Undang (UU)  Perbankan?

Sebaiknya didalam pembahasan mengenai UU Perbankan ini, harus dilakukan secara matang dan mendalam dengan melibatkan sebanyak-banyak pemangku kepentingan, termasuk industri perbankan, asosiasi dan pemerintah sendiri. Undang-undang perbankan ini kan inisiatif dari DPR. Jadi, sejauh ini diskusi juga dengan pemerintah selaku pemangku kepentingan yang  juga pemilik bank, karena pemerintah memiliki 4 bank BUMN. Jadi ini yang kita dorong agar betul-betul revisi undang-undang ini jangan hanya sekedar tambal sulam, hanya sekadar merespon kebutuhan jangka pendek karena lahirnya OJK ((Otoritas Jasa Keuangan). Bahwa kelahiran OJK yang membuat beberapa kewenangan dari BI (Bank Indonesia) yaitu pengaturan dan pengawasan perbankan itu berada di bawah OJK, itu memang harus direspon dengan revisi UU. Tetapi sekali lagi, jangan hanya sekedar tambal sulam, harus merupakan kajian yang menyeluruh, sehingga UU ini betul-betul harus bisa menjawab  mimpi bangsa Indonesia, tujuan bangsa Indonesia dalam  membangun perbankan itu untuk apa, yaitu pada akhirnya untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia atau bangsa Indonesia. Jadi, falsafahnya harus jelas mengenai UU yang akan kita rumuskan ini.

Pak, tadi Bapak bilang, pembahasannya ditunda dulu, karena OJK baru berdiri. Apakah itu berarti bahwa Perbanas meminta pembahasan UU ini  ditunda sampai  OJK beroperasi penuh?

Nggak harus menunggu beroperasi penuh. Maksud saya, tadinya ada kesan seolah-olah UU ini  harus tahun ini selesai. Nah, itu kan tidak realistis, OJK-nya kan baru berbenah. Kalau OJK-nya sudah siap memberi masukan, (mari) kita bersama-sama (bahas). Tapi yang paling penting adalah kita jangan seolah-olah menjadi tersandera dengan draf yang sudah beredar. Karena kita ingin pemikirannya perumusan ulang, ide baru, bukan hanya sekedar tambal sulam, ini yang kita sampaikan, karena ini kebutuhannya berbeda dengan ketika merumuskan UU Perbankan sebelumnya. Jadi tidak bisa kita samakan. Jenis bank juga pasti kan harus berubah lagi, tidak hanya dua saja, bank umum dan bank perkereditan rakyat. Dengan kejelasan struktur dan jenis-jenis Bank, maka penyusunan RUU Perbankan akan lebih mendasar dalam hal aturan tingkatan perijinan usaha perbankan, dan jenis-jenis bank, termasuk juga peranan dari Bank Perkreditan Rakyat atau Bank khusus lainnya.

Bagaimana peran Perbanas dalam perkembangan perbankan nasional?

Kita ini asosiasi dari bank-bank. Peran kita lebih banyak sebagai mediator untuk berhubungan dengan regulator. Kita juga memberikan advokasi kalau ada perselisihan atau persoalan diantara bank angggota Perbanas. Kita selalu memberikan masukan kepada regulator ketika memberikan saran-saran dalam penerbitan peraturan-peraturan, UU, kita sangat aktif. Peran kita ini sangat penting sekali. Bandingkan kalau satu-satu (setiap bank) bikin acara seperti ini (seminar mengenai revisi UU Perbankan). Tapi kalau asosiasi yang buat, gaungnya kan berbeda. Jadi kita bisa menyampaikan bahwa revisi harus dilakukan dengan persiapan yang matang, pemikiran yang lebih luas,komprehensif dan melibatkan banyak pihak.

Apakah UU yang sekarang  sedang digagas oleh DPR dengan inisiatif dari mereka, apakah memang sudah mendesak? APakah UU yang ada sekarang sudah tidak memadai lagi ataukah karena kelahiran OJK saja?

Yang pertama memang karena kelahiran OJK. Dengan kelahiran OJK, berarti kan ada kewenangan dari pengaturan dan pengawasan yang selama ini ada di BI berpindah ke OJK. Ini harus diatur lagi. Tapi kami juga ingin mengatakan bahwa dengan revisi UU ini, sekaligus melakukan penyempurnaan terhadap UU yang telah ada, bukan sekedar tambal sulam saja.

Belakangan beberapa kalangan (DPR dan BI) mempermasalahkan gaji bankir yang menurut mereka harus dibatasi angka maksimalnya. Bagaimana pendapat Bapak?

Yang pertama, menurut saya, data (data yang dirilis BI Untuk membandingkan gaji Bank Indonesia dan diluar negeri) itu tidak valid. Yang kedua, urusan gaji itu urusan pemegang saham. Selama banknya bagus, pemegang sahamnya memberikan, untuk apa kita persoalkan? Kita tidak bisa dibandingkan dengan kasus gaji bankir di Amerika atau di Eropa, itu menyangkut bank-bank investasi, investmen bank. Mereka ini,  bankir ini yang bermasalah. Kita ini sudah komersial bank. Anda jarang melihat di Eropa dan Amerika pun gaji bankir yang kategorinyakcomersial bankir, seperti Citibank. Yang dipersoalkan gaji-gaji investor bank yang terlibat masalah disana. Jadi kadang-kadang menurut saya, perbandingannya tidak sepadan. Disini bank-bank semuanya lagi bagus, kalau pemiliknya mau dengan imbalan yang wajar, tidak apa-apa.

Jadi soal besarnya gaji bankir tidak masalah, Pak?

Menurut saya bukan tidak masalah, seharusnya gaji tidak dipersoalkan. Untuk apa kita persoalkan? Tidak relevan. Eropa dan Amerika itu bank-banknya lagi pada bobrok, terutama bank-bank investasi yang bikin kasus supreme mortgage (kasus kredit kepemilikan rumah di Amerika) semuanya itu bank investasi. Itu mereka memang gila-gilaan gajinya, bonusnya, tidak bisa dibandingkan dengan kita disini. Tapi Anda pernah dengar nggak masalah gaji dengan orang-orang Citibank? Gak apa-apa. Wajar aja mereka, sama dengan kita, kita semua ini Komersial bankir. Jadi, perbandingannya kadang-kadang tidak tepat.

 

Artikel lengkap dapat Anda baca di EXCELLENT BUSINESS MAGZ  edisi Sept – Okt 2012

Untuk Pemesanan Telp ke: 081298161166

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT