Highlight

Prof. Ir. Roy Sembel, MBA.,Ph.D:Menuju Indonesia Juara

 

Saat anak-anak yang lain masih asyik bermain, Roy Sembel sudah sibuk mengurus bisnis pertamanya, peternakan ayam. “Waktu itu saya sudah memiliki dua orang pegawai,” kenangnya. Kebetulan, rumahnya dulu memiliki lahan yang cukup luas seh

Prof. Ir. Roy Sembel, MBA.,Ph.D:Menuju Indonesia Juara

ingga bisa dimanfaatkan untuk beternak ayam. Namun sayang, meskipun cukup berhasil, akhirnya usaha itu harus ditutup karena keberatan dari tetangga. Tidak putus sampai di situ, naluri bisnisnya tetap berlanjut hingga kini.

Kecintaannya kepada dunia Pendidikan, membuat misinya Ingin menjadikan dunia ini sebagai tempat hidup yang lebih baik bagi semua orang melalui pendidikan dalam arti luas.”  Untuk menjalankan misinya, suami Ny. Vivi Yuanita Lapian ini selain berkecimpung di dunia pendidikan formal juga aktif dalam berbagai bentuk pembelajaran alternatif di luar sekolah. Ia menulis di berbagai media massa, menjadi Narasumber dalam banyak acara televisi dan radio, maupun di berbagai seminar.

Kawan-kawannya mengenal Roy sebagai Siswa yang cerdas, selalu menempati peringkat pertama/lulusan terbaik, dari saat SD sampai menyelesaikan S3. Gelar Sarjana Statistikadengan predikat cum laude diperoleh Roy Sembel saat lulus pada Fakultas MIPA Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di Rotterdam School of Management Erasmus University dan The Wharton School University Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat. GelarS3 (Doktor) diraihnya dengan nilai rata-rata AdiThe Joseph M Katz Graduate School of Business University of Pittsburgh, Amerika Serikat.

Roy Sembel saat ini menjadi guru besar ekonomi keuangan di IPMI International Business School. Sebelumnya, ia menjadi dosen di banyak perguruan tinggi di dalam dan di luar negeri.Di dalam negeri, ia mengajar di Fakultas Ekonomi UKI, Universitas Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Universitas Bina Nusantara, Unila Lampung, Unsrat Manado, Universitas Surabaya, Unud Denpasar, UK Petra dan Unpad. Roy pernah dipercaya menjadi Direktur Program S2 investasidi Universitas Bina Nusantara, dan sejak Januari 2009 sampai Juli 2010 ia menjadi Dekan Sekolah Bisnis danDirektur Program Pascasarjana Universitas Pelita Harapan Jakarta. Selain di Indonesia, Roy juga telah memberikan Kuliah Umum di 28 universitas yang tersebar di enam negara, seperti: Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Filipina, Hongkong dan Thailand. Di samping itu, Roy telah menulis sedikitnya 1000 artikel di berbagai media massa dan menulis serta menerjemahkan 30 buku di bidang Keuangan, Manajemen, Pasar Modal, dan sebagainya.

Dalam perbincangan dengan EXCELLENT BUSINESS MAGZ di sela-sela Seminar Geliat Indonesia 2013, Prof. Ir. Roy Sembel, MBA.,Ph.D bercerita mengenai perjalanan hidupnya baik secara pribadi, karir dan harapannya bagi negeri tercinta, Indonesia.

Bisa Pak Roy ceritakan perjalanan hidup Bapak secara personal  dan perjalanan karir Bapak?

Wah, kalau cerita perjalanan saya, panjang ceritanya, ujarnya sambil tergelak. Sejak kecil saya sudah diajarkan oleh orang tua untuk berwirausaha. Kelihatannya saya suka menghitung-hitung. Karena bakat saya suka menghitung, jadi aplikasinya lebih ke bisnis Semasa di bangku SMP, saya mulai jalani bisnis. Bisnisnya peternakan ayam, baik daging maupun telurnya. Namun sayangnya, karena cukup berhasil dan ayamnya makin banyak, bisnis ini harus beralih karena keberatan dari tetanggaakibat bau kotoran ayamnya makin menyengat. Saya beralih ke bisnis baru, yaitu rental taxi. Usaha mulai dari satu taxi, jadi dua, jadi tiga dan seterusnya, sampai selesai SMA, dan Saya harus pindah ke Bogor untuk melanjutkan studi, sehingga sementara Saya meninggalkan bisnis dan konsentrasi untuk belajar. Semua itu menambah pengalaman Saya dalam berbisnis. Kemudian, saat di perguruan tinggi, Saya terinspirasi dari Prof Andi HakimNasution, Saya ingin jadi Profesor. Yang Saya lakukan adalah belajar keras selama di perguruan tinggi. Setelah lulussebagai lulusan terbaik di IPB, mendapat beasiswa ke luar negeridari Yayasan Beasiswa Witteveen Dekker, melanjutkan studi ke  Rotterdam School of Management Erasmus Universitydan The Wharton School University Pennsylvania, Philadelphia, Amerika Serikat. Saya bersyukur menjadi lulusan terbaik di Luar Negeri. Melalui yayasan Wahana Bhakti, Saya diberikan kesempatan mengambil program S3  di The Joseph M Katz Graduate School of Business University of Pittsburgh, Amerika Serikat dan berhasil menyelesaikan disertasi dengan baik. Pada saat terakhir mau lulus, Saya dipanggil oleh Profesor Gershon Mandelker. Beliau berkata “ Kami ingin merekomendasikan satu orang untuk bekerja di Bank Investasiterkenaldi New York, dan kami memilih Anda untuk posisi itu”. Kejadian Itu di tahun 1996, saatIndonesia sedang booming. Teman-teman saya katakan, “sudah lah Roy kamu balik saja ke Indonesia, masih banyak yang bisa dikerjakan di sini”. Ceritanya penuh kenangan. Akhirnya saya minta waktu untuk berpikir dan beberapa hari kemudian Saya kembali ke Profesor Mandelker. Saya katakan, “ Tawarannya baik sekali Prof, tetapi Saya mau kembali ke Indonesia”. Singkat cerita, 1996 akhir, Saya kembali ke Indonesia. Namun tahun 1997 ternyata terjadi krisis di Indonesia. “Wah, Saya berpikir, sepertinya salah keputusannya. Kalau misalnya saya memilih kerja di New York dengan gaji cukup besar, Saya sudah bisa jadi milyarderuntuk ukuranIndonesiadengan kurs rupiah yang melemah drastis

 

Apa yang Bapak lakukan selama di Indonesia di masa itu?

Di masa krisis itu, saya mencari opportunity di Indonesia, bekerja diMcKinsey & Company, cabang dari sebuah perusahaan konsultanmultinasional terkemuka di dunia. Jadi selama 3 tahun Indonesia krisis, banyak bisnis konsultan di perlukan untuk membantu melakukan recovery. Setelah selesai 3 tahun krisis, Kemudian masuk di tahun 2001,  nah pada saat tahun itu mendadak ada peristiwa besar di Gedung WTC, New York.Saya merenung, kalau saja dulu saya terima tawaran bekerja di New York, mungkin saat ini Saya sudah tidak ada di sinikarena markas Bank Invetasi yang ditawarkan oleh Prof Mandelker pada 1996 adalah di gedung tersebut. Rupanya, terkadang kita berpikir suatu kejadian itu adalah kejadian yang buruk, namun sebenarnya pada akhirnya menjadi yang baik. Selanjutnya, Saya punya Visi lagi untuk diwujudkan. Semua perjalanan itu menjadi pengalaman dan ‘bekal’ yang berarti. Di bidang education ada banyak hal yang tercipta di dalamnya. Selain itu juga ada pengalaman di dunia financial dulu, sewaktu lulus S2 sempat bekerja di Corporate Banking ABN AMRO Bank Amsterdam. Jadi cukup banyak kombinasi pengalaman, mulai dari akademik, entrepreneurship, kemudian pengalaman sebagai professional di luar negeri, rupanya semua itu membantu untuk membentuk karir Saya di Indonesia. Selama beberapa tahun pulang ke Indonesia, beberapa hal telah coba dilakukan dengan baik. Dari sudut akademiknya, Saya dikukuhkan sebagai Guru Besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta pada tanggal 23 Juli 2005, Kemudian berperan di Perusahaan, kemudian juga sebagai Professional, seperti menjadi Komisaris di Bank Niaga, Jadi Direktur di Bursa Berjangka Jakarta. Semua itu dilakukan untuk mencoba memberikan kontribusi bagi Negari ini, sehingga seperti yang disebutkan oleh Chairmain McKinsey, Dr. Raoul Oberman pada seminar Geliat Indonesia 2012, bahwa “Siapa lagi kalau bukan orang Indonesia  yang peduli kepada Bangsa ini”.

Jadi ke depannya Saya melihat banyak sekali opportunity yang belum di gali di Indonesia. Karena keterbatasan orang-orang yang menggalinya. Seperti presentasi saya di seminar Geliat Indonesia 2013, misalnya saja dari kacamata Pariwisata justru, Malaysia yang hanya memiliki 27 penduduk dan sedikit spot pariwisata tapi bisa mendatangkan 20 juta turis asing yang masuk ke negaranya. Sedangkan di Indonesia, mulai dari Sabang itu memiliki banyak spot pariwisata, hanya 8juta turis yang masuk. Artinya, kedepannya masih banyak potensi yang perlu digali untuk dimanfaatkan. Itu baru bicara satu sektor, belum sektor yang lain. Di sektor Education, misalnya seperti yang disebutkan bahwa masyarakat Indonesia banyak yang perlu dilatih untuk meningkatkan skill mereka. Tanggung jawab itu bukan saja milik guru-guru SD, tetapi sampai kepada Profesor juga itu menjadi guru. Nah, kita semua harus bersama melatih sumber daya manusia untuk meningkatkan skill mereka. Dan itu banyak sekali hal besar yang perlu dilakukan bersama.

 

Dari pengamatan Bapak, apa yang menjadi tantangan dan perlu mendapat perhatian Bangsa ini untuk pengembangan sumber daya menuju Indonesia yang lebih baik?

Saya melihat ada 5 pilar yang ingin perlu kita kembangkan, yaitu Infrastrukturseperti Jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, ketersediaan energy dan sebagainya. Kedua adalah Peraturan Perundang-undangan, dari sudut penegakannya maupun sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah. Kemudian yang ketiga adalah Human Capital-nya. Berbicara mengenai Skill sumber daya manusianya, Baik ketrampilannya maupun motivasinya. Kemauan dan kemampuan. Jadi cara belajar atau Learning Process yang lama, yang hanya mengandalkan knowledge saja tidak cukup. Harus Knowledge, Skill dan Attitude ditingkatkan. Jadi bukan saja Intellectual Ability-nya tapi juga Emotional Ability-nya. Dan hal-hal lain yang menjadi holistik learning-nya. Dan yang terakhir adalah Pengembangan Pasar. Ada pasar tenaga kerja, ada pasar komoditi, ada pasar finansial dan pasar produk-produk yang dihasilkan di Indonesia. Karena pasar sementara ini masih kurang efisien. contohnya harga komoditas di petani sampai harga di konsumen itu bedanya banyak. Petani bisa hanya dapat harga rendah, dikonsumen harganya sangat tinggi. Seandainya petaninya bisa dapathargalebih tinggi, dan konsumen harga lebih rendah sehingga selisih harga di konsumen dan petani mengecil, insentif untuk produksi lebih tinggidan konsumennya juga lebih banyak. Dan yang paling penting adalah Leadership-nya. Apakah Pemimpinnya punya komitmen untuk Good Governance. Baik di Corporate-nya maupun di Public Governance. Jika semua bisa dilakukan, maka 5 pilar ini akan bersatu membentuk culture  yang makin terpadu dan makin berorientasi kepada kinerja. Jika itu terbentuk, maka ke depannya potensi Indonesia yang masih banyak belum tergali, bisa tergali dengan lebih optimal. Dan bisa diberdayakan secara prudent. Sehingga, yang kita lihat bukan saja generasi ini lebih baik, namun lebih  penting juga bisa menjadikan Indonesia untuk menjadi ‘Juara Dunianya’ “The World Champion”. 

 

Informasi selengkapnya dapat Anda baca di EXCELLENT BUSINESS MAGZ edisi 30.

nina

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT