Highlight

Aviliani: Ekonom Wanita yang Jenius

Wajah pengamat ekonomi dari Economic Think Tank (Ec-Think) Indonesia ini, seringkali menghiasi layar televisi sebagai nara sumber masalah-masalah ekonomi yang tengah hangat. Bahasanya mudah dipahami masyarakat. Selain mengajar di Perbanas Institut, Wanita

Aviliani: Ekonom Wanita yang Jenius

kelahiran Malang 14 Desember 1961 ini juga adalah Komisaris Independen PT. Bank Rakyat Indonesia. Tenaga dan pikirannya di bank BUMN itu sangat diperlukan, yang membuat kinerja bank plat merah ini makin berkibar. Pada akhir Januari 2012 lalu, ia berhasil meraih gelar doktor setelah dinyatakan lulus dalam ujian disertasi Program Doktor Manajemen Bisnis di IPB Bogor. Dalam disertasinya yang menitikberatkan pendekatan Customer Relationship                 Management (CRM) itu, dia berusaha untuk menciptakan budaya menabung di masyarakat. Wanita yang akrab dipanggil Mbak Avi ini pernah menjabat sejumlah jabatan akademis seperti Ketua Jurusan Manajemen FE Universitas Paramadina (2002–2005), Pembantu Ketua II STIE Perbanas (2000–2002), dan Wakil Direktur Penelitian dan Pengabdian STIE Perbanas (1997-1999).
Kepiawaian Aviliani dalam bidang ekonomi pernah mengantarkannya menjadi moderator debat presiden pada Pemilu 2004 dan 2009. Saat ini Aviliani juga ditunjuk sebagai Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ekonom ini kerap menyoroti polemik mengenai sistem ekonomi kerakyatan dan ekonomi neoliberalisme terkait konsep perekonomian Indonesia. Peran negara dalam sistem ekonomi liberal bisa diterapkan. Namun, negara harus dapat menempatkan kepentingan industri kecil sekaligus mengembangkannya menjadi potensi ekonomi. Pemerintah juga wajib menentukan mana yang harus diproteksi dan mana yang tidak. Kelemahan sistem ekonomi yang saat ini diterapkan, terletak pada terlalu terbukanya negara memberi porsi bagi pasar untuk turut andil. Untuk hal ini pula Negara harus berperan dalam menentukan mana yang boleh dilepas dan diserahkan ke pasar dan mana yang tidak.

Indonesia, lanjut dia, masih merupakan pasar yang dilirik asing karena kondisi ekonominya relatif stabil, yang dapat dilihat dari inflasi yang relatif rendah, rupiah terjaga, pertumbuhan diatas enam persen,  hal itu merupakan daya dorong bagi asing tertarik untuk menempatkan dananya.

 

Kepada EXCELLENT BUSINESS MAGZ Aviliani, Pengamat Ekonomi & Komisaris Independen PT. Bank Rakyat Indonesia ini berbagi kisah perjalanan hidupnya baik pribadi maupun karir yang menginspirasi.

Bisa Ibu Avi ceritakan perjalanan hidup dan karier Ibu?

Saya anak tunggal, lahir di Malang 14 Desember 1961. Saya berjuang keras sendirian. Orang tua saya bercerai saat saya berumur lima tahun. Sejak itulah saya dititipkan pada satu bibi ke bibi yang lain di Jakarta secara bergantian. Karena serba kurang itulah, sejak kuliah tingkat satu saya menjadi asisten dosen. Ternyata gajinya pun tidak cukup buat bayar kuliah. Lalu,  saya diajak dosen saya mendatangi seorang ibu asuh. Beliaulah yang membiayai kuliah saya. Sejak itulah saya terinspirasi bila berhasil ingin menjadi ibu Asuh seperti orang yang telah memberi saya beasiswa.


Saya mengawali karier sebagai dosen di STIE Perbanas tahun 1989. Kemudian tahun 1992 saya ambil beasiswa untuk menempuh S2 di FISIP UI Jurusan Administrasi Niaga. Lulus tiga tahun kemudian, saya diajak dosen saya, Pak Didik J. Rachbini masuk ke Indef. Mulailah saya jadi peneliti. Di Indef, saya mendapatkan kesempatan melakukan penelitian tentang ekonomi makro. Kadang, saya menjadi nara sumber di radio bila ada hot-hot isue berkenaan dengan masalah ekonomi. Dengan masuk Indef, saya sadar, sekadar mengajar rasanya ada yang kurang. Menurut saya, jadi dosen kalau tidak punya pengetahuan tentang penelitian atau mengenal dunia luar, tidak bisa menjelaskan sesuatu yang riil kepada mahasiswa. Saya tidak suka hanya menjadi dosen text book. Jadi, di Indef itulah kesempatan saya mengembangkan diri. Saya banyak diundang jadi pembicara di lembaga-lembaga dan perusahaan.

 

Bagaimana Ibu bisa bergabung sebagai  Komisaris Independen di PT. Bank Rakyat Indonesia?

Sejak bulan Mei tahun 2005, pemerintah mengangkat saya sebagai Komisaris Independen di BRI. Ceritanya, ada peraturan di Bapepam bahwa perusahaan-perusahaan yang sudah go public harus punya Komisaris Independen. Syaratnya tidak terkait dengan bank tetapi punya atensi dengan perbankan. Komisaris Independen itu bisa diambil dari akademisi atau pengamat. Kebetulan saya pengamat dan akademisi. Saya tidak pernah melamar jabatan itu. Waktu itu, ada yang menyuruh saya mengirim Curiculum Vitae (CV). Setelah ikut fit and proper test, saya lulus dan ditempatkan di BRI. Dengan posisi sekarang sebagai komisaris sebuah bank saya merasa harus menjadi benteng. Apalagi untuk sebuah bank besar seperti BRI. Itulah yang membedakan posisinya dulu sebagai pengamat dengan yang sekarang. Dari sebagai tukang kritik, menjadi orang yang mengetahui kondisi di lapangan, berusaha menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan,. Istilahnya “harus turun lapangan, bukan sekadar menerima kertas di atas meja.”  Pengalaman menjadi komisaris BUMN ini, kelak akan saya bawa ke kampus ketika kembali menjadi dosen, pekerjaan yang masih saya cintai. “Yang saya petik akan saya bagikan kepada mahasiswa”.

 

Sebagai Pengamat Ekonomi, bagaimana Ibu melihat trend Ekonomi Indonesia dua tahun kedepan dan apa Pesan Ibu kepada para Pengusaha untuk berinvestasi.  Sektor apa yang paling menguntungkan?

Sebenarnya kalau kita lihat, hampir semua sektor itu trendnya akan baik. Hanya yang trendnya di bawah 5% itu ada di sektor Pertanian & Pertambangan karena masih ada masalah di rencana tata ruang, dan kepastian hukum, jadi walaupun potensi besar untuk sektor pertanian dan pertambangan karena Indonesia masih impor pangan. Jadi investasi di sektor pertanian masih punyai potensi yang besar. Sedangkan sektor manufaktur mulai  tumbuh cukup tinggi karena beberapa investor melihat potensi market di Indonesia sangat besar, apalagi kelas menengahnya sudah mencapai 50 juta orang. Prilaku kelas menengah ini yang membuat sektor yang berkaitan dengan life style mempunyai prospek yang yang baik. Itu akan berlangsung sampai dengan 2030 (bonus penduduk). Jadi saatnya sekarang para investor atau para pengusaha untuk berinvestasi  karena market domestik sangat menjanjikan, sedangkan bila berorientasi ekspor perlu memperhatikan pasar baru di Asia Timur. Demikian dengan sektor yang berkaitan dengan infrastruktur, keuangan, dan jasa masih tumbuh tinggi sehingga investasi di sektor tersebut juga masih menjanjikan. Kesimpulannya trend ekonomi Indonesia dua tahun kedepan masih akan tumbuh di atas 6 persen, sehingga investor perlu melakukan investasi.

 

Artikel selengkapnya dapat anda baca di EXCELLENT BUSINESS MAGZ edisi 31

pesan: 021 - 27112009

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT