Highlight

DR DEWI MOTIK PRAMONO, M.Si: MAJULAH WANITA INDONESIA

Wanita yang terlahir dengan nama Cri Puspa Dewi Motik telah banyak mewarnai dunia perempuan di Indonesia. Anak ke-4 dari 9 bersaudara itu telah menunjukkan banyak keahlian sejak masih muda, dan hal tersebut mendapat dukungan penuh dari sang ayah, Basyaruddin Rahman

DR DEWI MOTIK PRAMONO, M.Si: MAJULAH WANITA INDONESIA

Motik (BR Motik) yang adalah seorang pengusaha. Dewi Motik pernah belajar Bahasa Inggris di USAID USA, dan selama men­jalani kuliah baik di dalam maupun luar negeri ia selalu berusaha mencari uang sendiri dengan berbagai cara. Ia pernah berjualan benda-benda kerajinan khas Indonesia, berjualan kue dan makanan, dan masih banyak jenis usaha lain pernah ia jajal. Banyak hal yang terjadi pada diri Dewi Motik. Semua itu merupakan hasil dari deposito pengalaman dan perjuangannya bekerja keras sejak masih Remaja. Banyak hal yang perlu dipelajari dari diri seorang Wanita Indonesia super aktif ini, setidaknya, sebagai bahan perbandingan bagi Remaja putri khususnya, dan bagi generasi muda umumnya. Sejak umur 14 tahun, Dewi Motik sudah terbiasa mempunyai uang sendiri. Banyak cara yang dilakukannya untuk mendapatkan uang. Contohnya, main sulap. Ketika beliau masih SMP di Jalan Cikini Menteng, Jakarta Pusat, bersama teman-teman sebayanya, sangat menggemari main sulap yang dilakukan oleh seseorang Om dekat sekolah mereka. Om pemain sulap itu di mata Dewi Motik, luar biasa. “Sudah disenangi orang dapat duit lagi,” katanya mengenang masa-masa indah itu.

Di sela acara The 3rd Indonesia Secretary Summit 2013, EXCELLENT BUSINESS MAGZ berkesempatan berbincang dengan Ibu Dewi Motik, Ketua Umum KOWANI (Kong­res Wanita Indonesia – National Council Of Woman Organization - Indo­nesia). Be­li­au berbagi kisah perjalanan hidup dan karir yang men­jadi inspirasi bagi Sahabat Excel­lent di seluruh Indonesia.

 

Bisa Ibu Dewi ceritakan perja­lan­an hidup dan karir Ibu?

Terus terang, pertama saya sangat ber­­­syukur karena datang dari keluarga yang sa­ngat mendukung kegiatan “seribu akal”, ya­itu Kewirausahawan. Bayangkan, sa­­ya anak Menteng, teman-teman saya anak SMP 1, SD nya Cokroaminoto, SMA 3 - Se­tia Budi, Te­ladan. Di situ berkumpul anak-anak yang da­tang dari keluarga berada. Kendati datang dari keluarga berada namun jiwa kemandirian dan kewirausahawan saya sudah ada sejak dulu. Sedari kecil saya tidak pernah dimarahi ayah saya untuk cari uang. Ceritanya saya senang masak, sejak SMP saya suka masak. Sampai tamu ayah dan ibu saya yang datang ke rumah, mereka comment “wah, enak banget cake nya, enak banget chocollate brownies cake-nya”. La­­lu saya langsung celetuk, “Tante mau or­­der gak cake-nya?”. Tantenya menyahut “Mau dong, berapa harganya?”. Nah, sa­ya tentukan harganya double. Modal bu­at cake misal Rp.2500, saya jual Rp. 5000. Saya harus buat kuenya enak dan kua­litas­nya bagus, saya minta bantuan dari para pem­bantu Ibu saya untuk kocok adonan dan sebagainya. Jadi semua pesanan kue untuk tante-tante yang order siap pada waktunya. Ak­tivitas ini membuat saya senang, dan yang paling penting saya bersyukur karena Ibu saya tidak pernah marah atas aktivitas itu. Kata ibu saya, “Nih anak pinter amat, su­dah bisa cari uang sendiri”.

Kebiasaan saya tidak suka melhat uang ‘jelek’. Biasa­nya saya minta tukarkan de­­­ngan uang yang bagus kepada orang tua saya. Be­­liau mau, karena bisa melihat saya se­nang de­ngan hasil yang saya peroleh.

Begitulah masa kecil saya, sudah ber­wirausaha dan belajar mandiri sejak SMP, hal yang tidak lazim dilakukan oleh anak se­baya saya, dengan kondisi keberadaan keluarga yang sangat berada. Bukan hanya belajar ber­wirausaha, saya juga melengkapi diri dengan belajar Bahasa Inggris, untuk me­ningkatkan ketrampilan komunikasi saya lebih luas.

Ketrampilan itu membantu saya juga, ketika saya perform permainan sulap yang saya pelajari 1 bulan penuh saat liburan se­ko­lah (liburan SMP ke SMA). Permainan sulap itu saya pelajari karena terinspirasi dari Om Dicky, Pemain Sulap yang sangat disenangi anak-anak.

Saya menghibur anak-anak eks­patriat di kedutaan-kedutaan. Karena Ibu sa­ya ikut dalam Woman International Club ja­di teman-temannya banyak dari ne­­ga­ra-negara lain di dunia dan beliau me­­ngi­jin­kan saya menghibur di situ. Di­sam­­ping itu, saya tahu teman-teman Ibu sa­­­ya orang kaya. Biasanya mereka arisan di rumah, se­kalian makan bersama. Ja­di sa­­ya masak. Kemudian me­reka ta­nya “Ini ma­sakan princess sia­pa?” Saya acungkan ta­ngan “Saya tan­te” sam­­­bil senyum. Jadi di ka­langan me­reka saya terkenal su­ka masak dan buat cake enak, seperti food cake, brow­nies dan ku­e-kue lainnya, jadi me­reka bisa order ke­­pada saya. Bisa dibayangkan anak seusia saya bisa mi­liki uang yang banyak sa­­at itu. Alhamdulillah, ketika sa­­ya dibangku SMA, ka­kak sa­ya yang sekolah di Amerika  se­ring mengirimkan saya ma­jalah Seventeen, yang di dalamnya ada gam­bar sepatu yang lu­­cu-lucu. Saat itu juga belum ada Bakery. Ja­­di saya puny ide lagi untuk punya bisnis ba­kery dan sepatu. Akhirnya saya berdayakan anak angkat saya, yang seorang tukang sepatu. Saya bia­yai produksi sepatu yang dia buat, ke­mu­dian saya pa­sarkan dengan harga dua kali li­­pat. Sungguh suatu ke­ba­ha­giaan bi­sa ber­­­manfaat buat orang lain. Selain oto­­­­ma­­tis saya jadi punya ta­bungan yang ba­nyak.

Itulah contoh-contoh ak­­tivitas ‘seribu akal’ (wi­ra­­u­saha) yang sudah sa­ya lekoni sejak kecil. Tak cu­­­kup sampai di situ, se­le­­­pas pendidikan SMA, sa­ya melan­jutkan studi di Amerika. Ketika berangkat saya ba­wa yang namanya ge­­lang kenari, bross ke­nari, cin­cin tu­lang. Perhi­asan-per­hiasan ini ukur­annya kec­il jadi mu­dah di bawa. Ta­dinya buat oleh-oleh ke­­pa­da teman-teman yang mau rayakan Christmas. Ter­nyata di sana saya melihat pe­­luang ba­gus untuk membuat acara exhibition. Sa­ya bi­lang, “Sa­ya datang dari exotic coun­try, In­do­nesia with the Ba­li Island”. Sa­­­ya promosi In­­do­nesia. Alhasil perhiasan yang tadinya bu­­at oleh-oleh, jadi terjual habis. Gantinya, sa­ya minta to­long diki­rim lagi ba­rang-ba­rangnya. Tetapi akan makan waktu lama, ma­ka saya lang­sung pergi ke ‘Oriental Bazaar”  yang bia­sanya ada di setiap mall. Saya cari perhiasan di to­ko-toko souvenir Asia yang perhiasanya mi­rip dengan Indonesia, seperti Thai­land dan Taiwan. Saya beli dan di­­mo­difikasi sedikit ala In­donesia se­bagai pe­ng­gantinya.

Menarik lagi, seringkali tempat tidur saya gunakan un­tuk menggelar ba­rang dagangan, yang bisa dilihat oleh teman-te­man maha­sis­wa. Kebetulan as­rama saya ada di Dupont Plaza, Miami-Florida. Di situ tem­pat nongkrong anak-anak eksklusif semua. Mereka anak-anak manja dari north part of America. Jadi da­gangan sa­ya la­ris ma­nis. Di belakang Dupont Plaza tempat saya tinggal ada restoran. Karena  di se­ko­lah saya dapat ni­lai bagus dan belajarnya gampang, jadi saya punya ke­sempatan untuk kerja. Saya melamar se­­bagai waitress di Ho­ward Johson Res­to­ran. Alhasil diteri­ma.

Singkat cerita karena penampilan saya keren, rambut saya panjang, cantik, kerja bagus, jadi saya dikenal sama semua orang. Bayangkan, saya dapat kiriman uang dari orang tua, saya jualan, dan juga kerja, itu yang membuat uang saya bertambah. Saya sekolah di sekolah eksklusif Bauder Fashion College, Miami Florida. Kemudian saya juga sekolah di Florida Inter­national University Miami under United Na­tions. Saya bersyukur, Alhamdullilah un­tuk semua yang saya dapat. Hasilnya, sa­ya bisa liburan ke Mexico dan keliling Ero­pa dengan uang saya sendiri.

Ibu saya sempat bertanya “Dari mana kamu dapat duit untuk liburan?”  Saya ce­rita “Saya liburan pakai uang saya sen­diri, jadi waitress”. Ibu saya shock men­de­ngarnya. Tapi kan sudah kejadian, su­dah selesai. Itulah yang membuat sa­ya itu merasa sangat bersyukur sekali ka­rena orang tua saya tidak melarang sa­ya be­kerja. Yang saya kerjakan itu halal, tidak ‘ngumpet – ngumpet’ dari orang tua. Sikap ke­mandirian itu juga ditularkan ke­pa­da anak-anak saya. Anak saya Moza, ke­tika umur 18 tahun sudah jadi presenter, su­dah bisa cari uang sendiri dan selesaikan ku­liahnya dengan uang sendiri. Anak saya yang sekolah di Inggris. Di tahun-tahun per­­tama dia sekolah saya yang membiayai. Se­lanjutnya dia mencari uang sendiri de­ngan bekerja. Sekarang saya bersyukur de­ngan dua anak saya yang sudah ‘high stan­dard’ hidupnya, saya sudah tidak pusing lagi. Saya hanya memikirkan berdua saja. Ke luar negeri juga di sponsori”, cerita Ibu cantik ini bersemangat

Sehubungan dengan peran Ibu di KOWANI. Apa Visi dan Misi yang ingin Ibu wujudkan melalui KOWANI?

Kongres Wanita Indonesia atau KOWANI adalah adalah federasi dari or­ganisasi kemasyarakatan wanita Indonesia se­suai dengan undang-undang yang ber­laku dalam lingkup nasional. KOWANI ju­ga adalah organisasi yang sangat –sangat tertua di Indonesia. Terbentuk tanggal 28 Oktober 1928 di declare,  kita,  perempuan Indo­nesia harus merebut ke­mer­dekaan. Ka­rena kita belum merdeka pa­da saat itu, dan mengisi kemerdekaan. 

Selanjutnya konggres kedua tanggal 22 Desember sampai selesai tanggal 28 di Yogyakarta, itulah yang dikatakan sebagai hari Ibu Indonesia, ada 12 program yang di­canangkan.

Program organisasi dari yayasan yaitu ba­­gaimana mengembangkan program-pro­­­gram tersebut. Kita terdiri dari 86 or­ga­­­­nisasi terbesar dan tertua di Indonesia mu­lai dari Wanita Katolik, Wanita Islam, NU, Mu­­hammadiyah, Syarikat Islam sampai Pro­­fesional, Ikatan Wanita Pengusaha In­do­nesia semua itu tergabung dalam KO­WANI. Semuanya ada 86 organisasi yang ber­jumlah kurang lebih 30 juta orang. Pro­gram­nya antara lain ada yayasan – yayasan dan pendidikan – pendidikan peningkatan tentang perlindungan anak, pendidikan wanita dan sebagainya. Terus ada bidang lingkungan hidup, bidang ekonomi dan koperasi, bidang pendidikan terus kita be­kerja sama dengan UT (Universitas Terbuka). Untuk wanita tidak ada kata – kata drop out. Harus selesai pendidikan paling tidak aktivis harus S1, syukur–syukur bi­sa S2, S3 lebih bagus lagi. Pendidikan for­mal & informal penting sekali karena ha­rus dilengkapi dengan ilmu-ilmu yang me­nunjang. Kemudian kita ada dalam po­litik, ada program tentang politik. Saya me­ngundang seluruh organisasi politik ter­besar di Indonesia untuk menjual pro­gramnya, silahkan pilih dari dari 30 juta pe­rempuan ini siapa yang dijadikan kader – kader terbaik. Dan kepada wanita juga ha­rus pintar –pintar memilih mana yang ter­baik. Kemudian kami ada humas, ada bi­dang lingkungan hidup, ketenagakerjaan, ada bidang masyarakat, ekonomi koperasi, hu­kum HAM, kesehatan anak, kesehatan ibu. Intinya 12 program ini sudah menyangkut program MDGS sekarang ini. Jadi kita boleh bangga, bahwa su­dah dari tahun 1928 kami sudah berbicara ba­gaimana mengisi kemerdekaan. Memang ba­nyak kekurangan tapi yang paling penting kita mulai step by step bicara khusus ten­tang narkoba, maupun anti narkoba dan seba­gainya.

 

Artikel selengkapnya bisa di baca di EXCELLENT BUSINESS MAGZ edisi 33

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT