Highlight

Sudi Sudjadi: Pengalaman Menjadikan Kita Handal

Kemajuan peradaban yang ditandai dengan semakin kompleksnya hubungan antar manusia dan alam memaksa tiap individu untuk mampu bersinergi dengan kemajuan tersebut. Mereka akan berusaha dengan berbagai cara agar mampu bertahan bahkan meningkatkan kualitas hidup dan k

Sudi Sudjadi:  Pengalaman Menjadikan Kita Handal

ehidupannya baik ekonomi, religiousity, keluarga, pergaulan,dan sisi-sisi lainnya dalam kehidupan agar seimbang sehingga ia mampu maju bersinergi dengan kemajuan tersebut dalam kesejahteraan nan tenteram.  Namun, bagi yang kurang cakap menghadapinya, ia akan memiliki tekanan yang lebih berat dibandingkan dengan yang cakap untuk bertahan baik tekanan secara fisik maupun psikologis. Ketika tekanan semakin besar, persoalan-persoalan dengan sendirinya akan mendatanginya, diantaranya ketidakseimbangan kesehatan. Makanan yang serba instan, kebiasaan merokok, waktu kerja yang tidak seimbang, alam yang sudah tercemar sederet pemicu munculnya gangguan kesehatan. Sehingga wajar jika saat ini banyak muncul penyakit yang dapat mematikan. Pada saat ini banyak muncul minuman berenergi yang berusaha menjawab tantangan kesehatan tersebut, namun  kebanyakan dari produk tersebut justru memiliki kandungan bahan kimia (stimulan) yang lambat laun justru memiliki efek yang tidak baik bagi kesehatan.

Salah seorang yang peduli akan keseimbangan di dalam kesehatan adalah Bapak Sudi Sudjadi. Pria yang selalu EXCELLENT ini mendirikan PT. Dwi Natural atau deral, satu perusahaan yang telah mendapatkan lisensi untuk memasarkan obat herbal terkemuka yaitu PhytoChi. Dalam satu kesempatan yang baik, Bapak Sudi Sudjadi berbagi kisah kehidupannya kepada Majalah Excellent mengenai perjalanan kehidupan dan bisnis yang ditekuninya.

Bisa Bapak Sudi ceritakan latar belakang perjalanan hidup Bapak sebelum menjadi seorang Business Owner?

Baik, perkenalkan nama lengkap saya Sudi Sudjadi. Saya lahir di Kota Tanjung Pura, 60 KM dari Kota Medan Sumatera Utara. Saya tiga bersaudara yang kesemuanya adalah laki-laki, selisih usia kami masing-masing 2 tahun. Pada usia 12 tahun saya kehilangan Ayah saya, jadi praktis dari usia 12 tahun saya sudah menjadi yatim. Namun, saya sangat bersyukur pada Tuhan karena memiliki Ibu yang sangat gigih berjuang keras membesarkan kami bertiga, sehingga kami tumbuh menjadi pribad-pribadi yang mandiri. Ibu saya merupakan salah seorang inspirator bagi saya dalam memajukan bisnis hingga mampu berkembang hingga saat ini. Nah, pada tahun 1995 karena saya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan, maka setelah tamat SMA saya putuskan untuk merantau dari Kota Tanjung Pura Sumatera Utara ke kota Jakarta seorang diri. Semua ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup. Karir saya di Jakarta di awali bekerja sebagai pelayan toko di salah satu toko material. Pekerjaan ini saya tekuni kurang lebih satu tahun. Pada tahun 1996, dengan bantuan dari salah seorang saudara, saya melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan kayu dan diterima menjadi staf administrasi. Pekerjaan saya waktu itu bukan hanya mengurus administrasi namun juga pekerjaan seperti setor ke bank, penjualan, maupun sebagai debt collector semua saya jalani. Kurang lebih 3 tahun saya bekerja di perusahaan kayu tersebut. Selanjutnya, di tahun 1998 saya berpindah kerja di toko beras menjadi sales beras. Profesi sebagai salesman  inilah yang kemudian banyak berperan dalam mengasah kemampuan saya di dunia pemasaran atau marketing. Hal ini wajar, karena dengan menjadi seorang marketer, kita akan menghadapi bukan hanya penerimaan namun juga penolakan-penolakan dari customer. Namun, hal itu justru semakin meningkatkan kemampuan saya dalam dunia marketing. Selain kemampuan marketing yang semakin terasah, saya juga bergabung dengan salah satu perusahaan direct selling yang menjual obat herbal. Nah, dari pengalaman-pengalaman tersebut semakin menjadikan saya mampu bertahan di dunia penjualan. Namun demikian, titik balik kesuksesan saya adalah ketika saya hendak memutuskan menikah. Waktu itu saya berfikir, ketika seseorang sudah memiliki keluarga sendiri maka tanggungjawab akan lebih banyak dibandingkan pada saat kita masih sendiri. Jika ketika masih sendiri kita hanya memikirkan diri sendiri dan orang tua, maka ketika sudah memiliki rumah tangga maka tanggungjawab bertambah yakni akan ada anak dan istri. Tepat pada tahun 2007 saya memutuskan menikah. Meskipun saya hanya tamatan SMA, tapi saya berprinsip harus memiliki istri seorang Sarjana . nah, karena saya sudah menikah dan memiliki tanggungjawab yang lebih maka saya memiliki impian besar yakni menjadi seorang pengusaha.

Bagaimana awal Bapak merintis usaha yang kini Bapak tekuni?

Impian menjadi seorang pengusaha ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membangun usaha harus memiliki modal, sementara saya tidak memiliki itu. Persoalan  modal inilah yang menjadi kendala banyak orang yang ingin menjadi pengusaha. Mau memajukan karir lebih tinggi lagi, namun terbentur dengan latar belakang pendidikan.Pada tahun 2000 sampai tahun 2008 ketika saya bergabung denga perusahaan direct selling, saya menemukan salah satu produk herbal yang sangat bagus. Saya lihat dari penemunya maupun kualitas dari produk tersebut. Saya sendiri mengkonsumsi produk tersebut sehingga saya tahu persis manfaatnya. Akhirnya saya mencari tahu dari internet segala macam informasi tentang produk tersebut dan saya memberanikan diri menghubungi langsung kantor pusatnya di Polandia dan berbicara langsung dengan pemiliknya, meskipun pada waktu itu Bahasa Inggris saya masih pas-pasan, tapi saya beranikan diri untuk menghubungi karena saya memiliki impian kuat untuk menjadi pengusaha. Nah, sayangnya produk tersebut belum masuk ke Indonesia. Produk tersebut hanya beredar di Eropa. Namun, Saya melihat ini adalah sebuah peluang besar bagi saya dan saya memiliki mimpi produk ini harus bisa masuk ke Indonesia. ketiadaan modal tidak membuat saya putus asa, upaya saya yang pertama adalah dengan membuat proposal, kemudian saya menganalisa produk tersebut, sampai akhirnya saya berhasil bertemu dengan pihak yang bersedia menjadi investor yang akan membiayai saya demi terwujudnya impian tersebut. Akhirnya saya mendapatkan investor. Langkah kami selanjutnya adalah kami berangkat ke Polandia untuk survey produk tersebut secara langsung, survey pabrik dan kantor pusatnya. Pulang dari Polandia, Saya dan Pak Nursaid memutuskan untuk mendirikan satu Perusahaan untuk mengimpor produk tersebut dan memasarkannya ke Indonesia.

 

Artikel selengkapnya dapat dibaca di Majalah Excellent edisi 35

Anggit

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT