Highlight

IRMA SUSTIKA: Never Stop Empowering Woman

Bicara tentang kekuatan dan kemampuan wanita kita akan teringat pepatah dari Virginia Woolf bahwa “As a woman I have no country. As a woman I want no country. As a woman, my country is the whole world”.  Wanita akan senantiasa menjadi soso

IRMA SUSTIKA: Never Stop Empowering Woman

k yang mampu bertahan kuat di manapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun mereka berada.

Lebih senang disebut sebagai Trainer, Inspirator dan Penulis ia memulai karirnya sebagai Public Speaker setelah ia mengalami keterpurukan yang amat sangat dalam satu tahap episode kehidupannya, ia mampu bangkit kembali menjadi dirinya sendiri bahkan ia mampu memberikan inspirasi dan motivasi serta ide bahkan menciptakan peluang melalui wadah Womanpreuneur Community.

Dalam satu kesempatan yang baik IbuIrma Sustika berkenan berbagi kisah kehidupannya denganMajalah Excellent. Berikut wawancara lengkapnya.

Bisa Ibu Irma ceritakan perjalanan hidup dan karir Ibu ?

Saya dua bersaudara dengan kakak laki-laki saya, dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga pebisnis. Orang tua saya dari Padang Sumatera Barat. Ibu dan bapak saya adalah pedagang, yang punya toko dan kami juga tinggal di pasar. Bukan hanya berdagang namun ibu saya juga membuka konveksi, sekitar tahun 1970-an waktu itu Ibu saya memiliki karyawan sekitar 40-50 orang dan produknya dikirim ke Pasar Tanah Abang dan Pedagang-pedagang dari Banjarmasin. Jadi di rumah itu rame sekali. Selain membuka konveksi Ibu saya juga memiliki usaha catering, make up pengantin, bikin kue, salon bahkan sampai saya SMA orang tua saya memilki restoran yang cukup besar. Segala kemampuan perempuan sepertinya Ibu saya mampu sekali melakukannya plus dijadikan bisnis pula pokoknya multitalenta deh. Sayangnya semua itu tidak ada yang menurun ke saya (sambil tertawa-red). Orang tua saya sangat sadar akan pendidikan, mereka mengarahkan kami focus pada pendidikan dan urusan bisnis biarlah menjadi focus orang tua kami. Namun, hal ini menjadikan saya merasa tidak banyak belajar dari proses bisnis orang tua saya. Meskipun saya masih ingat waktu masih kecil sekitar kelas 2 atau kelas 3 SD, ketika saya tidak memiliki uang biasanya saya meminta kepada ayah saya untuk membantu jualan di tokonya. Apalagi kalau memasuki bulan puasa, biasanya toko menjual obral/ sale. Memasuki sekolah SMP saya dan kakak saya dipindahkan ke rumah nenek yang sangat homy jauh dari keramaian, mengingat rumah kami di pasar. Saya kuliah di jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, karena saya bercita-cita menjadi Duta Besar. Sebelum lulus dari kuliah, saya sudah dipanggil untuk bekerja di bank sebagai Account Officer. Meskipun pekerjaan saya tidak linier dengan bidang saya di bangku kuliah mungkin ini jalan dari Tuhan. Sebetulnya minat saya di kedokteran gigi, dilatari kekaguman saya dan kakak saya kepada dokter gigi kami yang sangat baik, sampai-sampai saya terinspirasi untuk menjadi dokter gigi. Namun, pada saat tes saya tidak lulus. Saya berkarir di bank sekitar delapan tahun. Tahun 1996 saya ditawari oleh salah satu perusahaan asuransi untuk bergabung. Dan saya terima tawaran ini. Padahal kita semua tahu bahwa sebelum tahun 1996 profesi bankers itu bonafid banget. Saya masuk ke dunia yang baru dalam kedaan yang sangat buta akan dunia asuransi tersebut, apalagi waktu itu masih melekat konotasi negative terhadap dunia asuransi. Tapi, saya pikir ini ada celah peluang yang masih sangat besar. Bahkan pada saat itu ibu saya pun menyayangkannya, karena delapan tahun di dunia perbankan dan saya sudah memiliki arah karir yang jelas. Di dunia asuransi saya membuktikan bahwa saya dan tim bisa menjadi yang terbaik. Selama sepuluh tahun saya berkarir di dunia asuransi, delapan tahun saya dan tim berhasil menjadi top nasional. Kemudian pada tahun 2006 saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan lebih memilih mengurus dua orang putra saya yang sudah mulai menginjak remaja. Ujian datang pada tahun 2008, anak bungsu saya secara mendadak dipanggil Yang Maha Kuasa dalam satu kecelakaan. Sesuatu yang membuat saya sangat terpukul. Belum lama dia bersama saya, bercanda dan makan dalam satu piring bersama, saya sampai-sampai tidak percaya dan tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi. Kejadian ini menjadi titik keterpurukan saya yang amat sangat. Saya tidak bisa menerima nasihat apapun dan dari siapapun.  Saya merasa mereka tidak ada yang bisa mengerti apa yang saya rasakan. Ditambah lagi dengan proses hukum yang lama, membuat saya merasa harus terus menerus me-rewind kejadian itu. Semua pekerjaan saya tidak ada yang tertangani dengan baik. Saya yang kuat, saya yang tangguh saya yang selalu bangkit tak mampu melawan takdir kekuatan Tuhan. saya marah kepada Tuhan. Semakin saya menolak kebenaran dari Tuhan semakin saya terpuruk, dan ini terjadi hingga enam bulan lamanya. Dari bulan agutus 2008 sampai bulan april 2009. Akhirnya saya tersadar, yang membuat saya sadar adalah anak sulung saya. Dia mengatakan kepada saya “ mamah, mamah mau sampai kapan begini terus?.. saya hanya punya mamah..kita hanya berdua mam, yang merasa kehilangan adek bukan mamah aja, tapi aku juga...”, dari situlah saya tersadar. Akhirnya ini menjadi titik balik saya, ibarat bola yang dilempar sangat kuat, saya jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi dan jatuh ke dasar banget. Saya sadar bahwa keterpurukan itu tidaklah melekat terus menerus. Dan kebangkitan kembali itu hanya bisa dilakukan dengan kesadaran dari dirinya sendiri. Nah, pada saat terpuruk itu saya suka menuangkannya ke dalam tulisan yang menjadi isi sebagian besar dari buku saya. Prinsip kehidupan saya bahwa kita selalu berada dalam sekolah kehidupan banyak sekali kejadian banyak sekali pelajaran. Seberat apapun kita seberat apapun masalah apapun episode yang Tuhan berikan kepada kita intinya kita harus bisa menerima. Selama kita tidak bisa menerima dan tidak mau apa yang Tuhan hadirkan semakin kita tidak akan bisa melangkah. Jadi sebenarnya yang mau kita terima yang enak-enak aja. Begitu yang pahit kita tolak atau kita marah, semakin kita marah semakin kita menolak pasti langkah kita pun akan semakin berat, jadi terima apapun segala episode kehidupan yang Tuhan beri kepada kita lalu kita harus ciptakan kebahagiaan di dalam diri kita, karena happy itu ada di dalam diri. Kita tidak akan bisa mengejar sebuah kesuksesan kalau kita tidak bahagia dengan hidup kita sendiri.

Mengapa Ibu tertarik dengan dunia public speaker?, kami dengar Ibu tidak suka disebut sebagai motivator?, mengapa?

Tahun 2006 setelah saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan memilih mengurus anak saya, saya terfikir untuk membuat usaha dari rumah, sayaberfikir bahwa permasalahan di Indonesia adalah SDM, pengalaman ini saya peroleh selama saya bekerja sebagai Kepala Cabang saya selalu membangun dan mengembangkan SDM di mana-mana. Akhirnya saya memutuskan membuka konsultan SDM di rumah dengan nama ISF Consulting. Inilah cikal bakal saya memasuki dunia trainer, atau inspirator. Saya memang merasa kurang tepat disebut motivator, karena menurut saya setiap pribadi itu motivator. Karena motivasi itu ada dalam setiap individu, dan yang mampu memotivasi diri mereka sendiri yang diri mereka sendiri, jadi setiap orang itu adalah motivator.  Saya hanya menyala-kan, memberikan inspirasi kepada orang lain, orang tersebut lah yang harus memotivasi dirinya sendiri dengan terus menerus.

Bisa Ibu ceritakan tentang Womanpreuneur Community?

Womanpreuneur Community berawal dari sebuah grup  di Facebook pada tahun 2010. Niat awalnya hanya ingin berbagi semangat melalui tulisan yang khususnya ditujukan bagi para wanita. Dengan berjalannya waktu, kami memulai  menyelenggarakan  pertemuan pertemuan kecil. Pertemanan yang berawal hanya dari facebook, akhirnya menjadi sebuah silaturahmi yang berkesinambungan dengan  saling mengenal lebih jauh, saling berbagi. Di awal 2012, setelah dibicarakan dengan kawan-kawan maka lahirlah sebuah nama Womanpreuneur Community. Perlu diketahui juga bahwa womanpreuneur itu bukan hanya berisi wanita-wanita yang sudah memiliki bisnis. Tapi juga bagi wanita-wanita yang belum memiliki bisnis atau yang mau belajar bisnis. Saya sih inginnya sama-sama berbagi, sama-sama belajar gitu, yang punya ilmu kasih ilmu ke yang belum dan yang belum belajar mau yang mana nih mau ilmu yang mana banyak sekali. Cukup seneng akhirnya melihat kawan-kawan bangkit, kawan-kawan bisa melakukan yang mereka mau mereka bisa menghasilkan uang , mereka bisa mencapai impian mereka itu walaupun dari rumah, itu sangat luar biasa sekali.

 

Artikel selengkapnya bisa dibaca di Majalah Excellent edisi 36

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT