Highlight

Anies Rasyid Baswedan, Ph.D: Memimpin adalah Mengajar, Mengajar Adalah Memimpin

Siapa yang tak kenal dengan sosok Anies Baswedan. Ia tercatat sebagai rektor termuda di Indonesia. Mendapatkan gelar doktor dalam ilmu politik di Northern Illinois University pada tahun 2005 dan gelar Master dari School of Public Policy, University of Maryland, ked

Anies Rasyid Baswedan, Ph.D: Memimpin adalah Mengajar, Mengajar Adalah Memimpin

uanya di Amerika Serikat. Pada April 2010, Majalah Foresight dari Jepang menyebutnya sebagai "20 Pemimpin Masa Depan Dunia". Sedangkan pada Juni 2010, Institute for International Policy Studies (IIPS) memberikan Nakasone Yasuhiro Awards kepadanya. Satu bulan kemudian, Royal Islamic Strategic Studies Centre yang bermarkas di Yordania memasukkan namanya ke dalam daftar "500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia". Pada kesempatan yang sangat baik Anies Baswedan berkenan berbagi kisahya bersama Majalah Excellent. Berikut ini cuplikannya.

Bisa Bapak ceritakan perjalanan hidup Bapak secara personal?

Saya lahir di Kuningan, Jawa Barat. Kemudian saya pindah ke Jogja, masa kecil saya sama seperti anak-anak kecil lainnya di Jogja. Sejak kecil SD, SMP, SMA sampai kuliah saya di Jogja. Saya terlibat dengan banyak aktivitas semenjak kanak-kanak, sama seperti anak-anak lainnya ada bermainnya, ada belajarnya pokoknya macam-macam lah. Saya menghabiskan waktu SMA selama empat tahun karena  waktu kelas dua memang terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar dan kemudian belajar selama satu tahun di Amerika Serikat di sebuah SMA di South Mailwakuee, Wisconsin Amerika Serikat, jadi saya punya dua ijazah, SMA di Amerika dan di Indonesia, dan itu (belajar di Amerika-red) memiliki pengaruh yang sangat besar bagi diri saya. Karena, saya ini tumbuh di Kota Jogja, Jogja itu kota pelajar yang sangat bersahabat dengan pertumbuhan intelektual, di sisi lain Jogja juga bukan kota metropolitan. Ketika mengikuti program pertukaran pelajar, mendadak tumbuh kesadaran baru bahwa saya adalah warga Jogja dan saya adalah warga Indonesia dan saya juga warga dunia. Jadi, kesadaran itu tumbuh ketika SMA, bahwa hidup ini bukan hanya sebesar Jogja, bukan hanya sebesar Indonesia tapi sebesar dunia. Masalah yang kita hadapi bukan hanya masalah-masalah lokal, nasional tapi juga global. Itu kesadaran yang pada saat saya mengalami tak terlalu terasa tapi lima enam tahun kemudian baru terasa efeknya bahwa perluasan perspektif itu memiliki efek yang besar dalam perjalanan saya kemudian.

Tentang Indonesia Mengajar, kapan Indonesia Mengajar mulai terbentuk?, dan apa visi dan misi yang ingin Bapak wujudkan di Indonesia Mengajar ini?

Gagasan mulai dari tahun 2009. Lalu mulai kegiatan, gerakan dan bekerja itu tahun 2010 dan akhir tahun 2010 mulai pengiriman pertama. Kita menginginkan agar republik ini maju dan berkembang dengan kuat dan kuncinya ada pada pendidikan pada seluruh bangsa, dan agar pendidikan bisa maju kuncinya ada pada guru. Jika guru di kelas itu bermutu dan berkualitas maka proses belajar mengajar akan menjadi baik, jika gurunya bermasalah, sehebat apapun kurikulum dipersiapkan, nggak bisa dijalankan dengan baik… dan ternyata banyak sekali daerah yang kekurangan guru, bukan jumlah gurunya yang kurang tapi penempatan guru yang tidak merata. Ada tempat yang kelebihan dan ada tempat yang kekurangan guru. Di daerah-daerah itu banyak yang 60-an% malah kekurangan guru, dan kualitasnya juga bermasalah. Dan kita mengundang anak-anak yang terbaik untuk berkiprah di sana. Yang kedua, anak-anak yang terbaik ini banyak dari mereka yang tahu dunia dan kompetensinya juga kelas dunia, tetapi belum tentu tahu grass root. Nah, di sisi lain banyak yang bekerja di grass root itu belum tentu tahu dunia. Nah, kita berharap anak-anak yang terbaik ini punya pengalaman di grass root selama satu tahun sesudah itu mereka kembali ke bidangnya masing-masing. Jadi saya salut pada anak-anak muda ini yang berpandangan tak perlu untuk menjadi seseorang dahulu untuk bisa berbuat. Dan bayangkan jika Anda berada di sebuah desa dan Anda seorang sarjana yang berprestasi apa sih yang terjadi di tempat itu?, dia bukan saja sekedar guru, tapi dia adalah sumber inspirasi, semua yang ada di sana mengatakan saya ingin seperti dia, para orang tua juga akan mengatakan bahwa anak saya nanti harus belajar seperti dia. Jadi efeknya dahsyat, itu yang ingin kita cari.

Kalau boleh share sedikit Pak, pola kepemimpinan apa yang Bapak bangun dan terapkan baik itu di kampus maupun di Indonesia Mengajar?

Tidak ada pola yang khusus, tetapi kesejajaran dan kerjasama itu komponen yang sangat utama di dalam menjalankan tugas-tugas dan saya menyadari benar bahwa yang disebut sebagai pemimpin itu adalah jika ada yang mengikuti, kalau tidak ada yang mengikuti berarti Anda bukan pemimpin, karenanya yang menentukan pemimpin atau tidak itu bukan posisinya tapi ada tidak pengikutnya?. A leader if and only if he have follower kalau bukan ya not a leader. Dalam pola kepemimpinan, collective effort itu penting sekali dan menurut saya kesejajaran itu prinsip yang sangat penting sekali dalam mendorong. Karena organisasi-organisasi itu memiliki sifat-sifat gerakan.

Dengan sikap seperti itu Bapak bisa merangkul dan memberikan inspirasi-inspirasi kepada semua. Jadi yang kami tangkap di sini ada mengajar sekaligus juga memimpin?

Betul, dan itu sebenarnya prinsip mendidik adalah memimpin dan memimpin adalah mendidik, karena seorang pemimpin harus memastikan semua yang ikut harus paham dengan visi misinya yang harus dijalankan begitu juga sebaliknya.

Apa sih pandangan Bapak tentang social entrepreneurship?

Sebenarnya terminologi yang digunakan boleh bervariasi atau bermacam-macam. Tapi sebenarnya kita sendiri sudah memiliki itu sejak lama Cuma namanya seringkali kita gak mau pake, yaitu gotong royong. Gotong-royong, kerja bersama untuk urusan bersama. Terminologi boleh berganti-ganti tapi prinsipnya adalah jangan diam menunggu orang lain berbuat. Anda lihat masalah you do it dan pikirkan tentang sustainability keberlangsungan, jadi jangan hanya melakukan sesuatu kemudian selesai, itu jangan, tapi keberlangsungan. Nah, ketika itu terbangun maka kita akan mampu mendorong perubahan kemajuan lewat sektor-sektor yang sering kita sebut sebagai sektor sosial. Jadi, kalau kita melihat ada masalah seperti masalah yang kita diskusikan seperti masalah pendidikan. Secara konstitusional sebenarnya ada nggak sih kewajiban saya untuk melakukan itu (kepedulian terhadap pendidikan melalui Indonesia Mengajar-red)?, tidak ada. Tapi ini adalah panggilan moral bukan panggilan konstitusional karena sebenarnya yang harus mengerjakan adalah pemerintah. Nah, attitude kita adalah bila ada yang kurang jangan minta orang lain turun tangan tapi minta diri sendiri yang turun tangan, lakukan sesuatu. Kalau Anda melakukan sesuatu maka orang lain akan ikut tapi kalau Anda yang meminta orang lain melakukan sesuatu, nggak ada yang akan ikut.. guarantee.., you do it maka orang lain akan mengikuti. Nah, menurut saya spirit itu yang pada hari ini harus dikembalikan. Jadi istilahnya bukan ditumbuhkan, karena memang dari dahulu memang sudah ada, cuma sekarang banyak yang hilang, jadi harus dikembalikan lagi. Jadi, republik ini milik kita, bukan milik pemerintah. Nah, social entrepreneurship atau yang lainnya adalah salah satu model baru, di mana melakukan terobosan kegiatan sosial yang juga secara bisnis dikelola dengan baik sehingga ada sustainability. Kita punya “subak” atau juga gotong royong dalam menjaga keamanan di kampung. Tapi struktur kerjasama kita itu struktur kerjasama masyarakat rural sehingga ketika diterapkan pada setting masyarakat yang urban seringkali malah kebingungan. Nah, terobosan-terobosan (social entrepreneurship) itu tadi adalah salah satu cara di mana kita bisa melakukan sesuatu dengan setting yang lebih modern.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 38

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT