Highlight

Eddy Kiemas : Kartu Nama-ku Kartu Sukses-ku

Prima graphia kini telah menjelma menjadi  salah satu jaringan bisnis cetak digital yang cukup diperhitungkan di industri cetak.  Cabangnnya sudah ada di beberapa kota, seperti Bekasi, Tangerang, Pekalongan dan Surabaya.Dengan jargon One Stop Digital

Eddy Kiemas : Kartu Nama-ku Kartu Sukses-ku

Printing kini Primagraphia

Dilengkapi dengan mesin-mesin terbaru yang canggih dan lengkap. Sebut saja misalnya, efi Vutek GS5000, Indigo 7500 juga mesin offset Heidelberg SM52 Anicolor.  Layanannya pun terbilang lengkap, apa saja ada, dari prepress, press, hingga post press.

Adalah Eddy Kiemasseseorang yang berada dibelakang jaringan cetak digital tersebut. Bagaimana Eddy  membangun jaringan bisnisnya tersebut, berikut kisahnya.

Masa Membangun Diri

Nama saya Eddy Kiemas. Saya lahir di Kota Jambi, lalu pada saat usia saya 4  tahun ayah dan ibu saya pindah ke Jakarta. Saya tiga bersaudara. Saya bersekolah dari SD sampai SMA di Jakarta. Memasuki jenjang kuliah, saya memilih masuk ke Jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti. Pada saat menjelang lulus saya sudah memiliki niat ingin sekali memiliki sebuah usaha. Mungkin karena latar belakang kehidupan saya dai keluarga yang biasa-biasa saja secara ekonomi, maka saya ingin agar saya lebih baik dari orang tua saya.

Pada saat masih kuliah saya berbincang-bincang dengan seorang teman lalu saya menemukan seorang partner untuk bersama-sama membuka usaha. Dengan modal kartu nama, kami menyebar kartu nama kepada teman-teman memberitahukan bahwa kami membuka bisnis. Bidang bisnis yang saya geluti adalah sesuai dengan kemampuan kami yaitu IT dan elektronik. Usaha kami, kami beri nama Primacipta Instrumen dengan tagline Software & Hardware Total Solution.

Dan puji Tuhan, mungkin ini memang jalan dari Tuhan, ada seorang kawan kami yang bekerja di Astra yang mengontak kami dan memberitahu akan adanya sebuah proyek, kami dipersilahkan datang dan mengajukan penawaran harga, tentu saja kompetitor kita pada saat itu adalah perusahaan yang sudah mapan dan besar, tapi entah mengapa presentasi kita itu bisa meyakinkan dari pihak Astra Motor dan akhirnya kita mendapatkan order pertama. Jadi, order pertama justru dari perusahaan besar, padahal usaha kami ini usaha yang baru terbentuk dan hanya dilakukan dari rumah. Kurang lebih 4 bulan dari usaha kami mulai berdiri order itu datang.

Tapi kondisi saya waktu itu masih bekerja di sebuah perusahaan, jadi sambil bekerja kita merintis usaha. Pekerjaan saya sebagai project manager di satu perusahaan kontraktor, jadi totally different dengan usaha yang sedang dibangun. Kami kerjakan order project dari perusahaan besar tersebut dan selesai dalam waktu satu tahun. Kita juga bisa dibilang memulai bisnis tanpa modal, hanya modal kartu nama. Untuk pembayaran project juga kami diberikan downpayment (DP), dari pembayaran DP itulah kami bisa membelikan alat-alat sekaligus untuk modal produksi. Jadi, sampai selesai kami hampir tidak mengeluarkan modal, bahkan kami mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Apalagi waktu itu nilai dolar sedang tinggi.

Tahun 1998 kita mengalami krisis, kami mencoba lagi membuka usaha masih dalam bentuk IT juga dengan membuat sebuah perangkat digital yang kita namakan telephone billing system. Bisnis ini kami jalani sampai dengan tahun 2001, puncaknya di tahun 1999 sampai 2000.

Tahun 2001 bisnis ini sudah mulai surut, kami mencoba melirik peluang usaha yang baru dan kami menemukan adanya peluang di industri grafika, akhirnya kami membuka usaha output film atau dalam bidang grafika disebut bisnis pre-press ada tiga jenis dalam bidang usaha grafika yakni pre-press, press dan post-press. Dengan nama brand Primawarna, kami dirikan pada tahun 2002. Pada tahun 2005 kami mendirikan lagi dengan tempat dan nama yang berbeda, kami beri nama Primagrafika. Puji Tuhan usaha kami cukup berkembang. Pada tahun  2005 kami kembali  menambah investasinya pada mesin cetak large format digital.  Mesin cetak yang saat itu ia beli adalah  printer Roland yang untuk aplikasi indoor ataupun outdoor. Saya yakin kalau bisnis pada cetak digital ukuran lebar ini bakal booming. Benar  saja,  sejak saat itu bisnis digital printing semakin naik daun, dan bisnis kamipun semakin berkibar. Untuk  memperbesar kapasitas produksi kamiharus selalu menambah jumlah mesinnya. Kami juga ekspansi bisnis ke daerah Bekasi Jawa Barat.   Kini sudah ada lebih dari 10 cabang di Jakarta, Bekasi, Tangerang, Pekalongan dan Surabaya.

Sayangnya, pada tahun 2008, karena adanya perbedaan visi dengan partner saya, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah dan menjalankan bisnis masing-masing. Nah, dari tahun 2008 itulah akhirnya saya berdiri diri sendiri dengan nama PrimaGraphia.

Tantangan dan kendala

Tantangan yang terberat yang saya hadapi pada kurun waktu tahun 2002 sampai dengan tahun 2008. Saat itu adalah masa-masa awal saya berbisnis, pengetahuan juga masih kurang, modalnya Cuma nekad doang. Memang semakin banyak pengetahuan yang kita kuasai, semakin kita menguasai bidang yang kita garap dan bisnis yang kita hadapi dan bisa menghadapi situasi ataupun masalah dan bisa menjalankan perusahaan dengan tepat.

Memang dalam kurun waktu tahun 2003-2004 saya coba menimba ilmu lagi, kuliah lagi dalam bentuk seminar, baca buku lalu sambilsayapraktekkan. Memang dalam bisnis ada masa-masa kita menghadapi kesulitan, antara lain omzet turun, sementara modal yang kita keluarkan tetap besar. Disitulah kita harus belajar bagaimana kita me-marketing produk kita dan sebagainya. Saran saya untuk sahabat excellent, setelah kita memulai bisnis kita juga harus memperkaya dengan menambah pengetahuan. Dan yang paling penting adalah prinsip-prinsip yang harus kita pegang di mana karakter juga sangat menentukan. Vision kita untuk jangka panjang selanjutnya.

Dalam bisnis di Primagraphia, ada beberapa pilihan, ada pre-press dan awalnya sebenarnya kita agak takut untuk masuk ke bisnispress itu sendiri karena bisnis cetak itu cukup rumit. Pada saat itu ada beberapa pilihan di depan mata saya, ada cetak yang konvensional dan ada cetak yang digital dan ini keputusan yang sangat sulit.

Setelah saya merenungkan dan saya ikut seminar ternyata saya melihat bahwa bisnis digital adalah semacam sunrise bagi saya, sementara bisnis cetak yang konvensional itu akhirnya kita lihat menuju sunset. Pada saat itu saya bingung juga untuk memilih, karena bisnis konvensional saat itu masih kuat sementara bisnis cetak digital ini baru muncul. Di Indonesia boleh dikatakan masih sangat jarang tapi kalau kita lihat luar negeri pastnyasudah lebih maju dan lebih dulu. Lalu akhirnya saya mantap untuk invest di mesin cetak digital, maka di tahun 2005 kita beli mesin cetak digital dan ternyata keputusan itu tepat dan setelah tahun 2005 kita terus melengkapi bisnis cetak digital itu sendiri karena cetak digital ini dibagi kembali ke dalam ada digital cetak indoor seperti untuk cetak ex-banner, kartu nama, dan cetak outdoor seperti untuk baliho, spanduk. Kemudian cetak digital kertas seperti brosur dan lain-lain dari situ kita terus melengkapi. Satu persatu kita lengkapi. Lalu setelah tahun 2008 setelah di rasa cukup besar lalu setelah ini kita mau kemana nih, pada saat itu saya dengan partner  akhirnya berpisah, karena visi-nya kita berbeda, lalu saya akhirnya berdiri sendiri.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 39

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT