Highlight

PROF. DR. Ir. H. Rokhmin Dahuri,MS: EKONOMI INDONESIA KE "LAUT" SAJA...

Nenek moyangku seorang pelaut...

Gemar mengarung luas samudera...

Menerjang ombak tiada takut...

Menempuh badai sudah biasa...

t-align: justify;"> Masih ingat dengan lagu itu? Itulah sebait lagu yang mewakili bangsa kita. Negara Indonesia dikenal dengan negara maritim. Hal ini wajar adanya karena 3/4 dari wilayah NKRI berupa laut, termasuk Zona Ekslusif Ekonomi Indonesia. Terdapat lebih dari 13.400 pulau di Indonesia dengan masing-masing kelebihan dan keindahannya. Nama Prof.Dr.Ir.H.Rokhmin Dahuri,MS adalah satu nama yang identik dengan kelautan dan perikanan Indonesia. Dialah Menteri Kelautan dan Perikanan RI tahun 2001-2004. Bagaimana kisah perjuangan Beliau didalam memperjuangkan ekonomi berbasis kelautan bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa? Pada kesempatan yang sangat baik Prof.DR.Ir.H.Rokhmin Dahuri,MS berkenan membagi perjalanan hidupnnya kepada Majalah Excellent. Berikut ini kisahnya.

Masa Kecil

Nama saya Rokhmin Dahuri, saya ditakdirkan lahir dari sebuah keluarga nelayan di desa Gebang Mekar, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada tanggal 16 November 1958.  Ayah saya (H.Dahuri Ismail) adalah seorang nelayan buta huruf, dan Ibu saya (Hj. Dasmirah) adalah ibu rumah tangga sekaligus pedagang ikan. Ada sebuah tradisi turun temurun di lingkungan nelayan bahwa seorang anak laki-laki harus meneruskan peran ayahnya sebagai nelayan, karena anak laki-laki itu ibarat asset yang akan membantu menopang ekonomi keluarga. Dengan kata lain cita-cita keluarga nelayan jika punya anak laki-laki, maka tentu harus menjadi nelayan lagi. Peran seperti itu pula yang diharapkan ayah saya terhadap saya. Namun, alhamdulillah saya dianugerahi etos kerja yang baik, sehingga selama saya menempuh pendidikan, dari SD hingga SMA bahkan kuliah di IPB dan di Dalhousie University, Canada serta sebagai dosen selalu menjadi yang terbaik.

Setelah lulus dari SD Gebang Ilir, ayah saya sudah mengarahkan saya untuk menjadi nelayan, bahkan saya sudah diberikan jukung (perahu kecil) sebagai modal melaut oleh ayah saya.  Namun guru-guru saya di sekolah justru sangat mendukung dan meyakinkan saya untuk melanjutkan pendidikan. Setelah lulus dari SMA tahun 1976 semangat saya waktu itu ingin sekali masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Karena sejak 1967 hingga 1976, desa kami menjadi tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa perikanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Lurah di desa saya menyarankan kepada saya untuk melanjutkan kuliah di Fakutas Perikanan IPB.  Pasalnya, beliau lihat dari catatan buku tamu bahwa para mahasiswa yang sedang KKN tersebut tidak ada seorang pun yang berasal dari keluarga nelayan. Lalu ayah saya dan lurah mengambil hipotesis bahwa mungkin inilah penyebab mengapa nelayan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Akhirnya saya memutuskan kuliah di Fakultas Perikanan IPB. Setelah lulus dari S1 dan S2 di IPB, mulai tahun 1986 saya bertugas menjadi dosen di IPB dan pada tahun yang sama saya melanjutkan pendidikan Doktoral di School for Resources and Environmental Studies, Dalhousie University, Halifax, Nova Scotia, Canada dengan bidang Ilmu Ekologi dan Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan atas tawaran beasiswa dari Prof. Emil Salim (Menteri Lingkungan Hidup ketika itu), yang awalnya tertarik akan tulisan saya di Kompas dengan judul "Membumikan Gagasan Pembangunan Berkelanjutan" pada awal 1986.

Ekonomi Indonesia : Ke laut Saja...

Kelautan dan Perikanan sudah menjadi bagian hidup saya. Dalam satu minggu hampir pasti dua kali saya menjadi pembicara baik di dalam maupun luar negeri membicarakan tentang kelautan dan perikanan Indonesia. Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, yang ditaburi oleh 13.466 pulau pada luasan laut 5,8 juta km2 dan dikelilingi oleh 95.181 km garis pantai. Indonesia diberkahi Allah SWT dengan kekayaan laut yang sangat besar dan beraneka-ragam, baik berupa SDA terbarukan (seperti perikanan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, dan produk-produk bioteknologi); SDA tidak terbarukan (seperti minyak dan gas bumi, timah, bijih besi, bauksit, dan mineral lainnya); energi laut; maupun jasa-jasa lingkungan kelautan seperti pariwisata bahari dan transportasi laut.

Pada 2009 di pantai barat Sumatera sampai dengan Selatan Jawa, dan mungkin juga di sebagian delta mahakam telah ditemukan gas hidrat atau yang sekarang disebut sebagai "shale gas".  Dan, "shale gas” inilah yang menolong Amerika dari keterpurukan ekonomi saat ini, yang minggu lalu hal ini dibahas di koran The Jakarta Post. Kalau kita lihat data dari Kementerian ESDM bahwa reserve atau potensi ini (shale gas-red) itu lebih besar dari seluruh potensi minyak dan gas bumi yang ada di Indonesia. Nah, itu baru satu potensi.  Padahal sedikitnya ada sekitar 11 sektor ekonomi kelautan yang bisa dikembangkan untuk kemajuan, kesejahteraan, dan kemandirian bangsa Indonesia. Kesebelas sektor ekonomi kelautan itu adalah: (1) perikanan tangkap, (2) perikanan budidaya, (3) industri pengolahan hasil perikanan, (4) industri bioteknologi kelautan, (5) pertambangan dan energi (ESDM), (6) kehutanan (coastal forestry), (7) pariwisata bahari, (8) perhubungan laut, (9) industri dan jasa maritim, (10) sumberdaya wilayah pulau-pulau kecil, dan (11) sumberdaya kelautan non-konvensional.

Potensi nilai ekonomi dari11 sektor ekonomi kelautan tersebut diperkirakan mencapai 1,2 triliun dolarAS per tahun.  Padahal total PDB (Product Domestic Bruto) Indonesia saat ini sebesar 1 triliun dolar AS, dan APBN kita Rp 1.800 triliun atau 180 miliar dolar AS.  Artinya potensi nilai ekonomi kelautan hampir 10 kali lipat dari APBN dan 1,2 kali PDB saat ini.  Sementara kesempatan kerja yang dapat diciptakansekitar 40 juta orang. Karenanya, bila kita mampu mendayagunakan potensi ekonomi kelautan secara produktif, efisien, adil, dan ramah lingkungan, maka masalah pengangguran dan kemiskinan otomatis akan terpecahkan. Kita pun tidak perlu lagi mengirim TKW (Tenaga Kerja Wanita) ke luar negeri yang acap kali mendapat perlakuan yang amat kejam dan tidak manusiawi.

Potensi produksi lestari ikan laut Indonesia yang dapat dimanfaatkan melalui usaha perikanan tangkap sebesar 6,5 juta ton/tahun, sekitar 8% dari total potensi produksi lestari ikan laut dunia (90 juta ton/ tahun).  Kurang lebih 24 juta ha perairan laut dangkal Indonesia cocok untuk usaha budidaya laut (mariculture) ikan kerapu, kakap, baronang, kerang mutiara, teripang, rumput laut, dan biota laut lainnya yang bernilai ekonomis tinggi, dengan potensi produksi sekitar 42 juta ton/tahun. Namun, hingga tahun 2011 kita baru memanfaatkan potensi budidaya laut ini sebesar 4,6 juta ton (10,95%). Lahan pesisir (coastal land) yang sesuai untuk usaha budidaya tambak udang, bandeng, kerapu, nila, kepiting, rajungan, rumput laut, dan biota perairan lainnya diperkirakan lebih dari 1,2 juta ha dengan potensi produksi sekitar 10 juta ton/tahun.

Sekadar ilustrasi, jika kita dapat mengusahakan 400.000 ha (30%) lahan pesisir untuk tambak udang secara optimal dengan rata-rata produktivitas 20 ton/ha/tahun (seperempat dari rata-rata produktivitas tambak udang Vannamei saat ini), maka dihasilkan 8 juta ton udang/tahun. Dengan harga jual sekarang US$ 7/kg (di lokasi tambak), nilai ekonominya mencapai US$ 56 miliar/tahun. Kalau 75 persen kita ekspor, nilai devisanya US$ 42 miliar/tahun, sekitar dua setengah kali lipat nilai ekspor TPT (tekstil dan produk tekstil) tahun lalu. Ini baru satu komoditas perikanan. Lebih dari itu, tenaga kerja yang dapat disediakan oleh 400.000 ha tambak udang adalah sekitar 1,2 juta orang tenaga kerja langsung yang mengelola tambak (on farm) dan sekitar 800.000 orang yang bekerja di industri hulu, hilir, dan jasa terkait (off farm). Padahal masih banyak produk perikanan lainnya, seperti ikan kerapu, kakap, baronang, bawal, tuna, cakalang, kepiting, rajungan, teri, nila, teripang, kerang mutiara, dan rumput laut yang selama ini diminati oleh pasar dunia, khususnya Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa, Singapura, RRC, dan Hongkong, dengan harga tinggi.

Lebih dari itu, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut pada tingkatan genetik, spesies maupun ekosistem tertinggi di dunia. Oleh karenanya, Indonesia dikenal di dunia sebagai mega-marine biodiversity, yang merupakan modal utama bagi industri bioteknologi kelautan (marine biotechnology industry). Ruang lingkup industri bioteknologi kelautan meliputi: (1) ekstraksi senyawa bioaktif (bioactive compounds) atau kandungan bahan alam (natural products) lainnya dari biota laut, sebagai bahan baku (raw materials) untuk industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, cat, film, biofuel, dan sebagainya; (2) rekayasa genetik (genetic engineering) untuk menghasilkan induk dan benih ikan, hewan, dan tanaman yang berkualitas unggul; dan (3) bioremediasi lingkungan. Potensi nilai ekonomi total dari produk perikanan dan produk bioteknologi kelautan Indonesia diperkirakan sekitar 82 milyar US$ per tahun.

Meskipun belum ada perhitungan tentang potensi ekonomi pariwisata bahari. Namun jika kita membandingkan dengan negara bagian Queensland, Australia dengan panjang garis pantai hanya sekitar 9.800 km tapi mampu menghasilkan devisa pariwisata bahari sebesar US$ 2 miliar/tahun. Maka sebenarnya potensi ekonomi pariwisata bahari Indonesia sangatlah besar.

Sementara itu, hampir 70% produksi minyak dan gas bumi kita berasal dari kawasan pesisir dan laut. Berdasarkan data geologi diketahui Indonesia memiliki 60 cekungan potensi yang mengandung minyak dan gas bumi. Dari 60 cekungan tersebut, 40 cekungan terdapat di lepas pantai, 14 berada di daerah transisi daratan dan lautan (pesisir) dan hanya 6 saja yang berada di daratan. Dari seluruh cekungan tersebut diperkirakan mempunyai potensi sebesar 11,3 miliar barel yang terdiri atas 5,5 miliar barel cadangan potensial dan 5,8 miliar barel berupa cadangan terbukti. Selain itu diperkirakan cadangan gas bumi adalah 101,7 triliun kaki kubik yang terdiri dari cadangan terbukti 64,4 triliun dan cadangan potensial sebesar 37,3 triliun kaki kubik.

Potensi ekonomi jasa perhubungan laut diperkirakan sekitar 16 milyar US$ per tahun. Ini berdasarkan pada perhitungan bahwa sejak 15 tahun terakhir kita mengeluarkan devisa sekitar 16 milyar US$ untuk membayar armada pelayaran asing yang selama ini mengangkut 97% dari total barang yang diekspor dan diimpor ke Indonesia, dan yang mengangkut 50% dari total barang yang dikapalkan antar pulau di wilayah Indonesia.  Sementara itu di sektor jasa penyediaan tenaga kerja pelaut untuk kapal niaga, kapal pesiar dan pelayaran rakyat, potensi ekonominya pun luar biasa besarnya. Potensi ekonomi ini akan menjadi lebih bermakna dan bernilai strategis, seiring dengan kenyataan bahwa pusat kegiatan ekonomi dunia sejak akhir abad-20 sebenarnya telah bergeser dari Poros Atlantik ke Poros Asia-Pasifik. Hampir 70% total perdagangan dunia berlangsung diantara negara-negara di Asia-Pasifik. Lebih dari 75% dari barang-barang yang diperdagangkannya ditransportasikan melalui laut, terutama melalui Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makasar, dan laut-laut Indonesia lainnya dengan nilai sekitar 1.500 trilun dolar AS setiap tahunnya.

 

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 39

ls

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT