Highlight

Calvin Hartono : Mengubah Persepsi Makanan Kampung

Makanan kampung sangat identik dengan ketidak higienisannya serta terkesan murahan untuk para kalangan kelas menengah keatas. Begitu melekatnya pencitraan tersebut tertanam di masyarakat kita. Gado-gado adalah salah satu makanan yang terkena imbas dari citra “negatif” tersebut, mak

Calvin Hartono : Mengubah Persepsi Makanan Kampung

anan tradisional asli Jakarta ini lebih dianggap sebagai makanan kampungan, tapi di tangan orang-orang yang kreatif maka citra itu akan luntur dengan sendirinya.

Siapa yang tak kenal Gado-Gado Boplo, sesuai dengan nama restorannya sudah jelas mereka mengedepankan gado-gado sebagai senjata andalan mereka. Keunikan mereka terletak pada penggunaan bumbu campuran antara kacang tanah dan kacang mete serta diikuti dengan konsep restoran yang modern sehingga mampu menciptakan sebuah rasa yang baru sehingga mampu mengubah persepsi masyarakat tentang makanan tradisional yang bukan berarti sebuah hidangan kampungan. Usaha yang tadinya hanya kedai kecil di gang sempit daerah Pasar Boplo ini didirikan oleh Ibu Juliana Hartono serta dengan andil putra sulungnya Bapak Calvin Hartono sekitar tahun 1970.

Berawal Dari Harga 25 Rupiah

Saat sang Ibu Juliana Hartono merintis usahanya di gang sempit daerah Kebon Sirih ini Calvin masih kecil, tapi hebatnya dia sudah mampu membantu ibunya dalam merintis usaha gado-gadonya. “Saya membantu mama pada saat mama belanja, membantu untuk membawakan belanjaannya pulang ke rumah, kemudian juga selepas pulang sekolah saya membantu mengupas kulit telur dan mengelap meja (dagangannya),” kenang Calvin Hartono saat dijumpai Majalah Excellent di kantornya di bilangan Menteng, Jakarta Selatan.

Usaha gado-gado ini bermodalkan Rp.500 dan dijual dengan harga Rp.25 -/porsi. Waktu itu pelanggan setianya adalah tetangga-tetangga sekitar rumahnya. Karena pada saat itu sang ibu belum memiliki karyawan yang membantu ibunya berjualan, maka dengan terpaksa Calvin kecil membantu ibunya yang kadang kerepotan dalam menyiapkan dagangannya. Calvin menjelaskan “Dulu pagi-pagi kalau lagi tidur sebelum sekolah sudah dibangunkan sama mama dengan mata masih ngantuk, terpaksa ya harus berbakti juga kepada orang tua. Jadi saya menjalankan itu dengan agak-agak masih ngantuk tapi tetap dijalani untuk membantu orang tua.”

Hingga Calvin beranjak ke bangku kuliah pun dia masih tetap setia membantu usaha ibunya. Waktu usaha Ibunya sudah mulai berkembang, sudah mulai berjualan di super market dan pasar swalayan jadi Calvin membantu sang ibu untuk menjadi supirnya. Karena saat itu si ibu mulai berjualan dari pagi hingga pukul 5 sore. Calvin sendiri mengakui lebih senang menjadi entrepreneur dibanding menjadi karyawan. Mungkin sang ibu juga cukup meng-influence dirinya sehingga menumbuhkan jiwa entrepreneur dalam diri seorang Calvin Hartono.

“Saya pernah bekerja hanya beberapa bulan saja tapi memang bukan passion-nya. Saya lebih senang jadi entrepreneur dan jadi pengusaha,” ungkap Calvin yang mengaku juga sempat usaha rental mobil serta jualan susu kacang dan alat-alat kecantikan. Semua itu dia lakukan untuk melatih mental entrepreneur-nya.   

Selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 41

Aria

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT