Highlight

Ongky Hojanto : Motivator, Inspirator, dan Edukator

Prestasinya meraih peringkat tertinggi di Indonesia untuk level manager dengan lebih dari 5000 member dalam bisnis MLM maka pria asal Manado ini dianjurkan untuk mengikuti sebuah program training yang akhirnya menyeret dia menjadi seminar addict. Dari kegemaran mengikuti semi

Ongky Hojanto : Motivator, Inspirator, dan Edukator

nar inilah yang membawa Ongky Hojanto bertemu dengan Tung Desem Waringin dari sinilah kemudian lahir impian dan dorongan yang kuat dari diri Ongky Hojanto untuk menjadi seorang pembicara hebat.

Untuk mencapai impian tersebut dia akui semua jenis training telah diikutinya bukan hanya itu saja, diakui pula dia banyak belajar dari semua pembicara terbaik di Indonesia, “Silahkan anda sebut nama motivator di Indonesia dan saya akan menyebutkan judul serta isi seminarnya,” Ungkap Ongky saat diwawancarai oleh Majalah Excellent.

Bukan hanya pembicara-pembicara dari dalam negeri saja yang dia jadikan sebagai tempat menimba ilmu, tapi juga para pembicara top dunia telah dia sambangi sebut saja Anthony Robbins, T Harv Eker, Bernie Wee, Tim Hallbom, Michael Carroll, William Horton adalah sedikit dari pembicara top dunia yang telah dia datangi seminarnya. Tercatat kurang lebih 30 perusahaan Nasional dan International menggunakan jasa dia untuk training, 5 BUMN dan 4 Kementerian Republik Indonesia yang dia bantu dalam hal peningkatan SDM, dengan tingkat kepuasan peserta diatas 90%. Bagaimana kisah hidupnya serta apa yang membedakan dia dengan pembicara lainnya, berikut cuplikannya.

Bisa sedikit ceritakan bagaimana kisah hidup Bapak?

Saya lahir di kota Manado dan karena tugas ayah sebagai seorang dokter, kami pindah ke kota kecil Ternate. Sebagai anak seorang PNS ada plus-minusnya. Plusnya karena status sosial seorang dokter terpandang di masyarakat maka saya terkadang sedikit “diistimewakan” dalam pandangan teman-teman dan minusnya karena seorang PNS maka tidak semua kemauan saya dapat dipenuhi oleh orang tua. Waktu itu saya kecewa tapi saat ini saya bersyukur karena money management yang diajarkan oleh orang tua saya.

Sejak kecil saya senang membaca dan mungkin ini adalah modal berharga untuk menjadi seorang motivator. Dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas saya habiskan di sekolah Negeri di kota Ternate. Dari SD hingga SMA rata-rata saya menduduki ranking 2 atau ranking 3 di setiap penerimaan rapor. Saat SMA beberapa prestasi pernah saya raih diantaranya Juara II Siswa Teladan tingkat SMA se-Maluku Utara, Juara II Cerdas Cermat tingkat SMA se-Maluku Utara dan beberapa penghargaan akademis lainnya. Mungkin, seperti anak-anak SMA lainnya saat itu, saya tidak memiliki cita-cita mau jadi apa nantinya dan akhirnya saya disarankan untuk mengikuti profesi ayah saya sebagai seorang dokter.

Melalui tes UMPTN, saya tidak lulus dalam seleksi tersebut. Dan akhirnya saya dimasukkan ke sebuah Universitas Swasta. Walaupun mungkin jika menggunakan relasi saya, bisa saja “dipaksakan” untuk masuk ke Universitas Negeri tersebut akan tetapi ayah saya menolak melakukannya. Saat kuliah saya gagal melewati tes bahasa Inggris dan matematika, alhasil saya harus menambah extra 12 sks untuk memenuhi standard dari Universitas. Disini saya belajar satu hal lagi, GOAL. Ya, setiap saat saya memandangi jadwal rencana kuliah, disana saya tetapkan harus tamat 4,5 tahun. Dan saya dapat tamat bersama-sama dengan teman-teman yang lulus bahasa Inggris dan matematika, padahal mereka unggul 12 SKS dari saya.

Kerusuhan di Ternate pada tahun 2000 akhirnya memaksa kami sekeluarga untuk meninggalkan rumah hasil dari uang yang dikumpulkan Ayah selama 20 tahun. Gone with the wind semua harta, reputasi dan kenyamanan yang dibangun selama puluhan tahun di kota Ternate. Harta dijarah, rumah di duduki dan pergi hanya membawa diri. Ayah, Ibu, Nenek dan Adik saya akhirnya harus mengungsi ke Manado. Tempat dimana saya menuntut ilmu. Kami tinggal selama beberapa bulan disalah satu teman ibu saya, sambil mencari-cari rumah kontrakan. Dan selama dua tahun kami tinggal dikontrakkan. Sebelum akhirnya orang tua saya membeli sebuah rumah kecil dari uang penjualan rumah yang di Ternate.

Bagaimana kiprah Bapak hingga bisa “kecemplung” menjadi seorang Trainer?

Setelah melalui beberapa interview dan tes tertulis saya akhirnya di terima di sebuah Hotel bintang 4 pada bagian akuntansi dengan posisi sebagai Income Audit. Disinilah awal perjumpaan saya dengan seminar-seminar dan training motivasi. Selain bekerja sebagai akuntan, saya juga menjalankan bisnis MLM atas ajakan pacar yang kini menjadi istri saya Fonny Lie.

Setelah mengikuti seminar “Sales Magic dan Life Revolution” di Manado, saya sering mengirim sms kepada Mr. Tung Desem Waringin dan bertanya mengenai Train the Trainer. Hingga disuatu malam pada 21 Maret 2006 saya menerima sms ajakan untuk mengikuti TFT (Train for Firewalk Trainer) di Bali. Biaya seminarnya Rp 15.000.000 diluar tiket pesawat. Apesnya saya sama sekali belum pernah ke Bali, saat itu Bali juga baru ada teror bom, serta istri saya baru melahirkan dan tidak punya uang untuk ikut seminar, alasan-alasan ini dapat saja  menghentikan saya saat itu, tapi saya tangguh justru karena alasan tidak punya uanglah maka saya harus ikut seminar. Ingatlah bukan orang langsing yang membutuhkan diet tetapi orang gemuklah yang butuh dan bukan orang kaya yang butuh seminar tetapi semakin miskin anda maka anda makin membutuhkan seminar.

“Saat ini saya belum punya uang, tapi tolong daftarkan saya dalam 2 hari saya pasti lunasi” begitu isi balasan sms saya kepada Mr. Tung menjawab sms ajakan beliau. Benar dalam 2 hari uangnya saya peroleh dari pinjaman dan sayapun menjemput impian menjadi seorang trainer. Saya ingat persis, saat teman-teman jalan-jalan di Bali saya harus tinggal di Hotel dengan alasan ingin istirahat tapi sebetulnya saya tidak punya uang lebih untuk jalan-jalan. Itulah awal saya menjadi seorang trainer.

Ada tiga hal yang membedakan saya dengan Trainer lainnya. Saya adalah motivator, inspirator dan edukator. Sebagai seorang motivator saya mendorong orang untuk melakukan sesuatu. Sebagai inspirator saya memberikan contoh cara melakukannya dengan melakukan terlebih dahulu. Dan sebagai edukator saya memberi tahu cara melakukannya. Teori yang saya sampaikan berdasarkan pengetahuan dari hasil belajar kepada guru-guru yang luar biasa di Singapore dan USA, sementara prakteknya berdasarkan pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain

Selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 41

 

Arra

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT