Highlight

Linda Amalia Sari Gumelar, SIP : Dongkrak Representasi Perempuan di Parlemen

Terlahir dari pasangan Letjen. (Purn.) TNI Achmad Tahir dan Hj. Rooslila Tahir pada 15 November 1951 di kota Bandung, menasbihkan bahwa Linda Amalia Sari memang dilahirkan dalam garis keturunan seorang politisi. Sang Ayah Achmad Tahir<

Linda Amalia Sari Gumelar, SIP : Dongkrak Representasi Perempuan di Parlemen

/strong> tercatat pernah menjabat sebagai Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi dalam Kabinet Pembangunan IV periode 1982-1987 dan Kabinet Pembangunan V periode 1987-1992 dibawah pemerintahan Presiden Soeharto. Sedangkan Sang ibunda Rooslila Tahir yang aktif di dunia politik dan juga pernah menjadi anggota DPR RI periode 1982-1987 dari Fraksi Karya Pembangunan (Golkar).

Nama Linda Amalia Sari sendiri diakuinya memiliki arti tersendiri, “Linda diambil dari bahasa Spanyol artinya manis. Lalu Amalia artinya anak yang diharapkan beramal baik dalam ilmu, selalu memperhatikan orang yang sedang kesulitan. Dalam falsafah agama, manusia harus banyak membantu orang. Sedangkan Sari artinya inti,” ungkap wanita yang sekarang menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Sejak kecil diakui pula bahwa beliau dan keluarga sering berpindah-pindah tempat karena tugas sang Ayah yang juga sebagai tentara. Bahkan saat beliau duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) enam tahun beliau mengenyam pendidikan di SD , enam kali juga beliau berpindah sekolah. Roma, Cikini, Bandung, Cilacap, Cipete, dan Kwitang menjadi pelabuhan beliau menimba ilmu di bangku SD.

“Nomaden” Mengajarkannya Berorganisasi

Baginya, berpindah-pindah tempat menjadi pengalaman unik sekaligus merepotkan tapi juga ada himkahnya. “Semasa kecil, saya harus melakukan banyak penyesuaian di sekolah yang selalu berpindah-pindah. Dan itu tidak mudah. Makanya, saya jadi tak punya teman baik. Baru kenalan sebentar sudah pindah rumah. Sisi positifnya, saat memasuki dunia organisasi di masyarakat, saya jadi cepat menyesuaikan diri,” ungkap putri keempat dari enam bersaudara ini.

Beliau mulai aktif berorganisasi sejak SD dengan menjadi Ketua Kelas. Berlanjut saat jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) bila ada kegiatan sekolah beliau selalu menjadi panitianya. Saking aktifnya berorganisasi sampai-sampai beliau pernah mengkoordinir aksi demonstrasi dengan menyewa truk. Beliau saat SMP bergabung bersama Kesatuan Aksi pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) , hingga berlanjut ke tingkat perguruan tinggi aktif di senat mahasiswa. “Saya koordinatornya, jadi duduknya di sebelah sopir. Ha ha ha,” kenang Istri dari Mantan Menteri Perhubungan Indonesia Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar ini.

Kedua orang tuanya juga punya pengaruh dalam pembentukan karakter dirinya. Dari Ayahnya sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan.

Beliau menceritakan sedikit mengenai sosok sang Ayah “Beliau tak pernah memanggil guru les seperti zaman sekarang. Tapi lucunya, karena kasihan melihat anak-anak, PR (Pekerjaan Rumah) sekolah pernah dikerjakan Ayah. Lalu, paginya dijelaskan bagaimana cara penyelesaiannya. Nah, ketika sampai di sekolah, teman-teman bertanya, “Eh, Papa kamu sudah bikin PR, ya?” Dan mereka pun mencontek PR saya ha ha ha. Tapi, itu sesekali saja, lho.”

Ayahnya yang seorang panglima TNI juga mengajarkan kepada setiap anak-anaknya untuk bisa menjadi diri sendiri, jangan merasa jadi anak panglima. Jangan memakai semua fasilitas yang ada seperti salah satunya untuk memakai ajudan. Hal ini juga diturunkan saat beliau mendidik kedua anaknya yaitu Haris Khaseli Gumelar dan Armi Dianti Gumelar. Beliau memaparkan,“Meski dulu kakeknya menteri dan papanya juga menteri, lalu saya kini juga jadi menteri, anak-anak tak perlu berubah sikapnya.”

Pernah sekali waktu saat kebetulan sang Ayah sedang bertugas ke luar negeri menjadi anggota dewan telekomunikasi dan tidak memungkinkan untuk sementara waktu kembali ke Indonesia karena suasana di Indonesia sedang mencekam akibat aksi pemberontakan. Beliau sekeluarga mendapat teror, lantaran khawatir terpaksa sang Ibu membawa mereka sekeluarga mengungsi selama 3 bulan di suatu tempat. Dari kejadian ini terlihat sosok ibunda beliau yang penuh kasih sayang, tegar dan mau berjuang.

Selain itu pula sang Ibunda adalah sosok wanita yang aktif berorganisasi. Hal inilah yang dirasa menurun ke diri beliau hingga aktif dalam berorganisasi. Ibunda beliau pernah dua kali menjabat sebagai Ketua Umum Istri Prajurit Angkatan Darat (Persit). Selain itu ibundanya juga sangat aktif berorganisasi memperjuangkan hak-hak wanita tapi pada saat itu masih di lingkungan keluarga prajurit, tentang bagaimana membina persatuan dan kesatuan, melakukan keterampilan bagi anggota sehingga bisa membantu ekonomi keluarga, menjaga kesehatan anak-anak lebih cerdas, penggunaan ASI dan juga aktif dalam kegiatan seni seperti latihan paduan suara dan seni tari.

Hidup Dari Lingkungan Menteri

Beliau mengakui, dari seorang anak menteri, kemudian menjadi isteri menteri dan berlanjut kepada dirinya sekarang menjabat sebagai seorang menteri, semua itu berjalan secara alami. Seolah-olah waktu 19 tahun menjabat sebagai ketua Kowani (Kongres Wanita Indonesia) merupakan sebuah proses perjalanan hidup yang sudah dituntun sang Pencipta.

Sebagai seorang Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tugas yang diemban beliau tidaklah mudah. Namun beliau telah mencanangkan beberapa program untuk membenahi beberapa isu-isu yang menjadi prioritas diujung akhir jabatannya ini. Diantaranya yang sedang beliau galakan adalah peningkatan representasi perempuan dalam politik di tahun politik ini, lalu Kekerasan dan pornografi untuk mengantisipasi kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi, Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dan beberapa isu lainnya.

Mengenai representasi perempuan di tahun politik beliau menganggap keterwakilan perempuan di parlemen harus memberi arti yang tidak hanya memenuhi kuota 30%, tetapi menghasilkan wakil rakyat berkualitas dalam kesetaraan gender. "Sukses Pemilu 2014 bukan hanya diukur dari terlaksananya pemilu secara prosedural, melainkan secara substansi menghasilkan wakil-wakil rakyat yang berkualitas dalam kesetaraan gender," Beliau menjelaskan.

Pentingnya keterwakilan perempuan di parlemen pada Pemilu 2014 didukung oleh amanat UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD yang memberikan hak bagi perempuan dalam kepengurusan partai dan pengajuan bakal calon legislatif. Dimana Kepengurusan partai di semua tingkatan wajib mengakomodir sekurang-kurangnya 30% perempuan di parlemen pusat dan daerah.

Data membuktikan hasil Pemilu 2009 baru sekitar 18% atau 82 orang dari 560 anggota DPR. Sedangkan perempuan anggota MPR sebanyak 20% atau 80 orang, perempuan anggota DPD 27% atau 73 orang, perempuan anggota DPRD provinsi sebesar 16% atau 84 orang, dan anggota DPRD kabupaten-kota sebesar 12% atau 88 orang.

Oleh karena itu, keterwakilan perempuan di parlemen merupakan salah satu bentuk penyetaraan gender agar perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dengan laki-laki di parlemen. Upaya agar perempuan memperoleh kesempatan duduk di parlemen terus dilakukan beliau bersama dinas kementriannya misalnya dengan mengadakan penandatanganan MoU (nota kesepahaman) dengan KPU, Bawaslu, dan Kementerian Dalam Negeri untuk mengawal proses legislasi maupun pelaksanaan UU Pemilu. Kementeriannya juga melakukan pendekatan kepada semua pemangku kepentingan, baik di pusat maupun di daerah, agar memahami pentingnya keterwakilan 30 persen perempuan di parlemen.

(AN)

DR

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT