Highlight

Chairul Tandjung, Dari Tukang Sepatu Hingga Duduk Sebagai Konglomerat

Siapa yang tidak mengenal namanya, dinobatkan sebagai salah satu dari 1000 orang terkaya di dunia oleh Majalah Forbes, dengan total kekayaan hingga senilai USD 1 Miliar pada tahun 2010. Diberi julukan sebagai “Si Anak Singkong”, Chairul Tandjung kini telah

Chairul Tandjung, Dari Tukang Sepatu Hingga Duduk Sebagai Konglomerat

mantap berada dipuncak kesuksesan lewat kerajaan bisnis yang dijalankannya. Lajur bisnisnya juga telah memberikan peran dalam dinamika perekonomian masyarakat Indonesia.

Pendidikan adalah Segalanya

Chairul Tanjung kecil hidup bersama keluarga yang memegang erat prinsip ketegasan, orang tuanya menerapkan bahwa pendidikan merupakan hal yang paling diutamakan dan mutlak untuk dilakukan dan diperjuangkan bagaimanapun kondisinya. Ayahnya adalah seorang wartawan surat kabar berskala kecil pada era orde lama, A.G Tanjung. Namun pada era orde baru, usaha milik ayahnya tersebut terpakasa harus ditutup dikarenakan banyak hasil karya tulisan beliau yang dianggap berseberangan dengan alur politik yang dilakukan oleh para penguasa pada saat itu.

Untuk dapat bertahan hidup, orang tuanya terpaksa harus menjual rumah yang dimilikinya dan berpindah kesebuah losmen kecil. Kedua orang tua Chairul Tanjung sangat menerapkan sikap tegas dalam mendidik anak-anaknya. Demi beranjak dan keluar dari jeratan kemiskinan yang pada saat itu melanda, kedua orang tua Chairul Tandjung selalu menekankan kepada anak-anaknya agar selalu menyelesaikan jenjang pendidikan setinggi mungkin, segala daya dan upaya akan dilakukan demi terwujudnya hal tersebut. Seperti yang pernah dilakukan oleh Ibunda Chairul Tandjung, Ibu Halimah, ia mengatakan pernah harus menjual kain batik halus yang dimilikinya guna membiayai Chairul Tandjung masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Chairul Tanjung  menyelesaikan pendidikannya di SMA Boedi Oetomo, Jakarta Pusat pada tahun 1981, kemudian dia melanjutkan pendidikan nya di Universitas Indonesia. Selama kuliah Chairul Tanjung  dikenal sebagai mahasiswa yang teladan, mandiri dan tekun, hal tersebut dibuktikan dengan penghargaan yang dia peroleh pada tahun 1984-1985 sebagai mahasiswa teladan tingkat nasional.

Insting Itu Mulai Muncul

Bidang pekerjaan yang dilakukan Chairul Tandjung saat ini bisa dibilang sangat berbeda jauh dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, memang insting bisnis Chairul Tanjung dimulai saat dia masih duduk di bangku kuliah, guna membantu membiayai kuliahnya Chairul Tanjung  sempat membuka usaha fotokopi di kampusnya, dia juga sempat berjualan kaos dan buku kuliah stensilan, selain itu dia juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium, namun usahanya belum berhasil. Tetapi hal-hal tersebut tidak dapat mematahkan semangat dan keuletannya dalam upayanya untuk membantu menopang keadaan ekonomi keluarganya.

Tidak berhenti sampai disitu, ia  kembali mencoba membuka usaha kontraktor tetapi kurang berhasil sehingga mengharuskan ia untuk bekerja di perusahaan baja. Lalu, ia pindah ke perusahaan rotan. Disanalah ia bertemu dengan tiga orang rekannya yang pada akhirnya mereka bersama-sama mendirikan PT. Pariarti Shindutama. Perusahaan ini memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor, dan Chairul Tandjung beruntung usahanya kali ini menuai untung besar karena perusahaannya mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu anak-anak dari Italia. Seiring berjalannya waktu, akhirnya Chairul Tandjung memutuskan untuk berkarya sendiri karena terjadi perbedaan visi misi dengan rekan-rekannya.  Selepas dari bisnis sepatu ekspor, Chairul Tandjung mengarahkan usahanya ke konglomerasi dengan tiga bisnis inti, yaitu keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang sekarang menjadi Bank Mega yang kini merangkak naik menjadi bank kelas atas. Ia juga merambah ke bisnis sekuritas, asuransi jiwa, dan asuransi kerugian. Pada sektor sekuritas, Chairul Tandjung memiliki perusahaan real estate dan membangun Bandung Supermall pada 1999.

Belum berhenti sampai disitu, Chairul Tandjung berkecimpung juga di bisnis pertelevisian dengan mendirikan Trans Corp yang membawahi Trans TV dan Trans 7. Walalupun aroma persaingan di industri pertelevisian semakin ketat pada waktu itu, namun Chairul Tandjung yakin stasiun TV yang dimilikinya bisa terus berkembang, ditambah jika melihat belanja TV nasional telah mencapai angka 6 triliun setahun dan 70% di antaranya akan diambil oleh televisi.

Selain Trans Corp., Chairul Tandjung memiliki juga Para Group yang mengayomi 5.000 karyawan dengan Para Inti Holdindo sebagai kepala industri yang memiliki tiga anak perusahaan, yaitu Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti).

Dalam kondisi yang udah mumpuni saat ini,  Chairul Tandjung mengaku lebih suka mengakuisisi dibandingkan membangun bisnis karena akusisi perusahaan membuat sinergi dan memperluas ladang usaha. “Waktu saya memulai banyak waktu tapi enggak punya uang. Mulai dari nol. Lama-lama  jadi besar punya uang, tidak punya waktu. Maka yang dilakukan tidak perlu bangun tapi mengakusisi” ujar Chairul Tandjung saat disinggung mengenai akuisisi.

Kepercayaan Adalah Segalanya

Chairul Tandjung menganggap bagian terpenting dalam menjalankan sebuah bisnis adalah Networking. Jangan pernah batasi jangkauan dan terus kembangkan jaringan yang ada. Jaringan yang baik tidak selalu dengan perusahaan yang sudah maju dan mempunyai nama semata, namun sama pentingnya jika kita membina jaringan dengan perusahaan kecil yang belum memiliki nama besar. Chairul Tandjung juga pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki hubungan akrab dengan seorang pengantar surat, hal semacam ini akan berguna disaat perusahaan mengalami kelesuan atau sepi order, hubungan baik seperti ini bisa dimanfaatkan untuk mengembalikan laju intensitas penjualan perusahaan.

Dalam hal Investasi Chairul Tanjung tidak alergi bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multinasional, Chairul Tanjung tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan perusahaan perusahaan tersebut menurutnya ini bukan upaya untuk menjual negara namun ini merupakan upaya perusahaan nasional Indonesia untuk bisa berdiri dan mejadi tuan rumah di negeri sendiri. Menurut  Chairul Tanjung modal memang penting dalam sebuah bisnis namun kemauan dan kerja keras adalah hal lain yang wajib dimiliki oleh seorang pengusaha namun mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya, baginya membangun kepercayaan pasar sama pentingnya dengan membangun integritas disinilah penting nya jaringan dalam sebuah bisnis.

Bagi generasi muda yang akan terjun berbisnis, Chairul Tanjung berpesan agar generasi muda mau bersabar dan menapaki tangga bisnis satu persatu dan perlahan saja, karena membangun bisnis itu tidak seperti membalikkan telapak tangan dibutuhkan kesabaran dan kekuatan agar kita tetap konsisten melakukan apa yang sudah kita yakini. Jangan pernah menyerah, jangan sampai terpancing untuk menggunakan jalan pintas (instant) karena dalam usaha kesabaran adalah kata kuncinya, memang sangat manusiawi jika seseorang dalam berusaha ingin segera mendapatkan hasilnya namun tidak semua hasil bisa diterima secara langsung. (Disunting dari berbagai sumber) DR

DR

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT