Highlight

Menjabat Dua Bidang Deputi LAYAKNYA BERMAIN GAME SAJA

Menjabat Sebagai 2 Bidang Deputi, Edy Putra Irawadi : Layaknya Bermain Main Game Saja

Terlahir dan ditempa dengan dunia perdagangan sejak kecil, membuat ia terlatih dan terbiasa dalam bidang perniagaan. Mungkin hal itulah yang menjadi modal awal yang kini mengantark

Menjabat Dua Bidang Deputi LAYAKNYA BERMAIN GAME SAJA

annya menjadi seorang Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Perniagaan dan Kewirausahaan Republik Indonesia. Berkat kegigihan dan komitmen tinggi yang ia terapkan pada dirinya, ia kini juga dipercaya untuk merangkap sebagai Deputi Bidang Industri Inovasi Tekhnologi dan Kawasan Ekonomi. Dia adalah seorang Edy Putra Irawadi, bagaimanakah ia memulai kisah hidupnya? Berikut pemaparan beliau saat ditemui oleh Tim Majalah Excellent di Jakarta.

Bisa dijelaskan mengenai profil pribadi anda?

Saya terlahir dari keluarga pedagang, ayah saya berasal dari banjarmasin dan ibu saya dari melayu mandarin. Saya lahir di kualatungka Jambi. Saya menempuh pendidikan disana hingga smp dan saya merupakan  anak ketiga dari 7 bersaudara. Sejak kecil saya sudah dididik untuk mandiri, tiap pagi mengangkat air utk mandi, pergi belanja dan membantu ayah saya jualan ditoko. Saya melewati masa kecil dengan penuh kebahagiaan, saya diajarkan mengenai cara berdagang, menilai suatu barang itu bagus atau tidak, mengantar surat dan saya bisa menghasilkan uang sendiri. Saat kecil saya mempunyai cita-cita yang sifatnya melayani publik, seperti sebagai tukang pos dan pilot. Saya tidak pernah berfikir utk menjadi pegawai negeri. Setelah selesai kuliah saya berniat utk kembali berwirausaha, namun sebelunya saya harus mencari pengalaman di swasta. Tetapi Karena keluarga saya tidak pernah ada yg menjadi PNS, saya sedikti dipaksa oleh keluarga saya untuk menjadi pegawai negeri, dan atas permintaan dari ibu sayalah akhirnya saya masuk ke kementrian perdagangan untuk mengabdi kepada negara.

Hal apa saja yang membuat bapak tertarik terjun dibidang ekonomi?

Yang membuat saya tertarik karena disiplin ekonomi itu bersifat deskriptif bukan preskiptif, walaupun latar belakang pendidikan saya sarjana hukum. Saya senang di bidang ekonomi karena deskriptif, yaitu benar benar menggambarkan secara utuh mengenai kegiatan ekonomi masyarakat. Kedua karena saya ingin berniaga, di bidang ini saya bisadeal dengan pemerintah terkait hal apapun yang berhubungan dengan kegiatan perekonomian masyarakat, dan saya bersyukur, di semua kementrian yang pernah saya lewati adalah kementrian yang berkaitan dengan ekonomi. Kemudian di bidang ini lebih banyak menggunakan logika dan suatu keputusan yang berani, bagaimana merekayasa suatu program, sehingga bisa menggerakan kegiatan perekonomian masyarakat. Disitulah yang membuat saya tertarik, jadi saya merasakannya seperti bermain saja.

Bagaimana Dengan Riwayat pendidikan bapak?

Bisa dibilang saya kurang beruntung dalam hal pendidikan, saya lulus SMA umur 16 tahun. Ketika saya ingin melamar menjadi seorang pilot, saya diterima oleh banyak perusahaan penerbangan, tetapi karena usia saya masih terlalu muda, maka saya diharuskan untuk memberikan surat ijin dari orang tua saya. Sementara posisinya saya tidak diperbolehkan untuk menjadi pilot oleh orang tua saya. Akhirnya saya harus melepas cita cita tersebut. Orang tua saya hanya mengharapkan saya utk menjadi seorang dokter dan pegawai negeri, kedua profesi tersebut sangat tidak menarik untuk saya pada waktu itu, saya tidak bisa berkreasi disana.  Akibatnya jurusan kuliah saya sedikit berantakan, saya pernah belajar di fakultas ekonomi, tekhnik dan industri,  antropology, dan sebagainya. Jadi bidang pendidikan yang pernah saya ikuti itu sangat banyak sekali. Bagi saya disamping pendidikan formal yang sudah saya jalani, saya juga harus mencari skill. Makannya disamping pendidikan formal, saya juga sering mengikuti pelatihan pelatihan yang bersifat penjurusan. Misalnya pendidikan akuntansi dan kepabeanan, karena menurut saya pendidikan itu adalah hal yang sangat penting untuk membentuk pola pikir kita. Karena itulah saat ini saya selalu memaksa kepada pegawai pegawai saya untuk melanjutkan pendidikannya, dan jika ada pelatihan pelatihan tertentu saya selalu memaksa mereka untuk ikut, tak jarang juga saya membiayai mereka untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Pendidikan itu tidak selalu berorientasi kepada uang, masih banyak jalan. Apapun harus dikorbankan demi pendidikan. Orang tua saya selalu mengatakan, apa saja yang bisa dijual maka jualah, asalakan saya bisa selalu melanjutkan pendidikan. Pada saat masa ujian ketika saya sekolah dulu, saya dibebas tugaskan dari pekerjaan rumah saya, seperti mengangkut air dan memasak agar saya bisa benar benar konsentrasi kepada ujian. Saat ini saya bisa memasak, karena ibu saya selalu mengajarkan saya memasak sejak dulu. Saya juga sering diajarkan memilih barang yang bagus atau tidak ketika berbelanja dipasar. Beliau selalu mengingatkan untuk selalu mengedepankan tanggung jawab dibandingkan hak, hal hal itulah yang membentuk karakter saya seperti saat ini.

Info selengkapnya bisa dibaca di Majalah EXCELLENT edisi 44

18 November 2014

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT