Highlight

Menulis dan Marketing Adalah Dunia Saya, Its My Life

Menulis dan Marketing adalah dunia Saya, its my life.

Sebagian orang akan menggeleng-gelengkan kepala melihat padatnya aktifitas yang dia jalani, waktu kerja yang dianggap melebihi batas normal. Namun apa yang ia katakan? I

Menulis dan Marketing Adalah Dunia Saya, Its My Life

a justru merasa sangat nyaman dan enjoy dengan rutinitas menggila yang ia jalani. Cukup satu alasan, Passion. Saat uang bukanlah lagi menjadi prioritas dalam pekerjaanya, tetapi kenyamanan. Menulis buku adalah bagian dari kehidupannya. Adalah YuswoHadi, pria 40 tahun yang kini cenderung aktif didalam organisasi yang memotivasi para pengusaha kecil dan UKM yang sekarang lebih banyak meluangkan waktunya untuk memberikan ilmu dan pengalamannya kepada para pebisnis di Indonesia. Dengan sejuta pengalaman yang ia miliki, ia memiliki misi mulia untuk meningkatkan perekonomian lewat jalur memotivasi para pebisnis dengan menekankan pentingnya sebuah “Branding, Marketing dan Management” didalam sebuah usaha. Pada kesempatan ini ia akan berbagi cerita dengan sahabat Excellence, berikut ini adalah ulasan lengkapnya

Bisa Bapak ceritakan kepada sahabat Excellent, siapa sih sebenarnya sosok dan Background dari Yuswo Hadi?

                Saya lahir didaerah Purwodadi, tahun 1969. Walaupun umur sudah tua tetapi semangat saya harus selalu muda. Sejak kecil hingga duduk di bangku SMP di Purwodadi. Lalu ketika masuk SMA saya hijrah ke Jogjakarta. Saya menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa Tekhnik Mesin  di Universitas Gajah Mada (UGM), dan ini merupakan satu hal yang menarik karena saat ini saya lebih dikenal sebagai pakar bisnis, sementara saya tidak mempunyai background pendidikan dibidang Marketing ataupun Bisnis. Jenjang S1 saya jurusan Tekhnik Mesin dan pada tahun 2000 saya menempuh pendidikan S2 saya dengan mengambil jurusan Accounting/ Finance di Universitas Indonesia (UI). Pada tahun 1987 saya menuju Jakarta untuk  mendalami dunia Marketing kira – kira selama 12 tahun bersama Pak Hermawan Kartajaya, beliau merupakan Icon Marketing di Indonesia. Cara belajarnya adalah dengan bekerja di Client. Dari situlah kemampuan berbisnis dan marketing saya diasah. Perjalanan karir dengan pendidikan saya sangatlah berseberangan, dan satu hal lagi yang sangat menarik, sewaktu menempuh jenjang S1 di UGM, saya justru aktif di bidang Jurnalistik. Saya juga sempat menjadi Pemimpin Umum sebuah majalah kampus di UGM. Secara tidak langsung pengalaman saya di bidang Jurnalistik juga membantu mengasah kemampuan saya di bidang Marketing karena interaksi dengan orang lain saat menjadi wartawan.

Pada tahun 2010 saya mendirikan perusahaan saya sendiri yang bernama Infenture, singkatan dari Infenting the Future yang mempunyai arti “Menemukan Masa Depan”, berawal dari situlah saya memulai karir sebagai  Consultant, Pembicara Publik tetapi tetap masih didalam ranah Marketing, Bisnis dan Trading. Itulah kira – kira awal riwayat perjalanan karir saya.

Sejak Kapan Bapak Memulai Karir Sebagai Tata Bisnis?

Setahun yang lalu saya menulis sebuah buku yang menurut saya buku ini memiliki makna yang paling dalam, dimana saya melihat suatu kondisi yang mengerikan di Indonesia, karena Indonesia dikuasai oleh brand - brand dunia. Hampir disemua kondisi kita temukan barang produk luar, mulai dari perlengkapan dapursampai dengan produsen mobil mewah. Atas dasar itulah saya menyadari bahwa Indonesia perlu adanya kemandirian Brand Nasional. Brand lokal harus kuat dan berkuasa, untuk itulah melalui buku itu saya mencampaign para pengusaha di Indonesia untuk membangun Brand. Tidaklah mudah untuk melakukan hal tersebut, karena kebanyakan orang berbisnis hanya untuk mencari omset. Hal itu boleh saja, akan tetapi jika kita hanya mencari omset tanpa ada Brandnya, maka kita hanya akan kuat selama lima tahun atau sepuluh tahun. Untuk itu saya menjadi motivator, tetapi bukan hanya motivator untuk menyemangati, sekaligus memotivasi teman – teman pengusaha di Indonesia untuk membuat Brand dan memperjuangkan Brand Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sudah banyak contoh juga yang bagus, seperti Garuda Indonesia, Sosro, The Cost.

Apa yang melatar belakangi bapak untuk memilih sebagai pakar bisnis? Mengingat latar belakang pendidikan bapak sebagai seorang Insinyur dan Akunting.

                Sewaktu menempuh pendidikan di  SMA saya mendapatkan nilai yang bagus, dan juga jurusan yang terbilang bagus, dari situlah timbul rasa gengsi, saya juga harus mengambil jurusan yang bagus di bangku perkuliahan. Pilihan pertama saya ambil jurusan Tekhnik Mesin dan pilihan kedua Tekhnik Nuklir, lalu kemudian saya diterima di jurusan Tekhnik Mesin. Namun setelah dijalani selama setahun kuliah, saya merasakan passion saya bukan di bidang itu, jadi saya merasa sedikit tersiksa dengan rumus – rumus mesin dan matematika. Tapi Alhamdulillah akhirnya pendidikan itu saya selesaikan walaupun memakan waktu 9 tahun. Setelah itu saya berganti haluan, dimana saya merasa passion saya di  Management di bidang Marketing. Saya ingat setiap jam istirahat makan siang saya selalu menuju Fakultas Ekonomi mencari jurnal ataupun majalah, membaca mengenai ekonomi dan manajement. Saya banyak menulis di media sewaktu menjadi mahasiswa, tetapi bukan mengenai Tekhnik Mesin tapi mengenai Manajement, Pemasaran, dan Strategi.

                Kemudian pada tahun 1996 saya lulus dan sempat menganggur setahun, karena dengan IPK jurusan tekhnik mesin yang tidak terlalu tinggi sangat sulit mencari pekerjaan. Pada tahun 1997 saya diminta bekerja oleh rekan saya yang bekerja di perusahaan milik Bapak Hermawan, dimana teman saya menunjukan hasil tulisan saya kepada Pak Hermawan, saya diminta bekerja disana bukan karena saya pintar, tetapi Pak Hermawan melihat tulisan saya. “Pak, orang ini kok tulisannya bagus”, tulisan saya tersebut memang dibidangnya Pak Hermawan. Akhirnya saya dipanggil oleh Pak Hermawan tanpa melalui test, Pak Hermawan merasa saya sepertinya sudah cocok untuk bekerja bersama beliau.

                Akhirnya saya mulai bekerja bersama Pak Hermawan. Pak Hermawan dikenal sebagai Icon Marketing. Mempunyai semangat belajar yang luar biasa, lalu saya berguru sama beliau. Karena belajar di bidang saya sukai, maka semangat itu menjadi luar biasa. Saya ingat ketika saya mulai belajar tahun 1997 hingga saya menikah tahun 2005, selama itu pula saya jarang diam dirumah, mengingat background saya yang juga sebagai seorang aktivis, saya bisa tidur dikantor selama 2 minggu karena semangat yang membara-bara. Terkadang saya juga bingung selama 12 tahun saya bekerja bersama Pak Hermawan, saya bisa menghasilkan buku sebanyak 30 sampai 40 buku, dan itu tanpa terasa berat, karena saking nyamannya bekerja, tidak kenal lelah karena saya merasa ini passion saya. Bahkan sampai detik ini pun saya merasa pekerjaan saya ini seperti bermain, juga saya bekerja bukan berorientasi kepada gaji yang besar, bahkan sampai tahun 2005 saja saya tidak tahu gaji saya berapa. Namun ketika berkeluarga saya barulah mulai menghitung pendapatan saya, karena istri saya yang mengatur itu semua. Sampai sekarang saya menemukan passion yang luar biasa di bidang Bisnis dan Marketing, belajar setiap hari akhirnya kita mencapai produktivitas yang luar biasa. Sampai sekarang saya tidak percaya bisa menulis sekian banyak buku dan membantu ratusan Client, apalagi mengingat konsultan bukanlah pekerjaan yang mudah tetapi saya tetap merasakan kenikmatan yang luar biasa, itulah yang dinamakan Passion.

Bapak Mulai Menulis Sejak Kapan?

                Sejak kuliah saya sudah mulai menulis, dan saya mendapatkan Reward karena dari menulis itu dibaca oleh orang lain, saya memiliki kebanggaan luar biasa saat tulisan saya dibaca orang. Sumber energi dan penyemangat saya saat menulis adalah keyaiknan bahwa tulisan saya ini akan dibaca dan bermanfaat untuk orang lain. Beberapa orang akan mudah patah semangat saat sedang menulis, tetapi karena kembali lagi saya merasa ini dunia saya, menulis itu mempunyai kenikmatan yang luar biasa. Bahkan sekarang jika saya tidak menulis saya merasa dunia ini hampa, saya tidak bisa hidup tanpa menulis. Sekarang saya bisa menghasilkan 3 atau 4 tulisan untuk media. Menulis dan Marketing adalah dunia saya, it’s my life.

Bagaimana prosesnya hingga bisa menyelesaikan 40an buku?

                Selain karena Passion, sebagian besar buku saya juga ada yang berupa pesanan. Seperti misalnya beberapa perusahaan minta saya menulis tentang Transformasi, tetapi ada juga buku yang berisi aspirasi orang yang memberikan saya pekerjaan. Beliau punya ide, dan saya menjadi tim penulis dan tim riset. Setiap kali menulis juga mempunyai target kapan harus selesai, sehingga hal itu membuat saya bisa menyelesaikan sekian banyak buku. Tetapi kembali lagi kuncinya adalah satu, saya mempunyai Passion di bidang itu, saya punya kemauan untuk terus belajar, karena seorang penulis tanpa membaca tidak akan bisa, harus banyak wawasan dan harus banyak mendengar. Kebetulan saya juga seorang Seminarist, karena mengajar di seminar membuat saya merasa ilmu yang saya pelajari dan saya kumpulkan bisa saya sharing kepada orang lain. Dari situ saya menemukan meaning hidup, setiap hari bangun tidur lalu bekerja itu seakan rasanya indah sekali karena ilmu dan informasi yang kita dapatkan kita bagikan lagi kepada orang banyak lewat seminar dan tulisan di buku saya. Harapan terbesar saya semoga ilmu yang saya bagi dapat digunakan dan bermanfaat buat kehidupan banyak orang.

Ada Informasi Jika Bapak Sedang Membantu Sebuah Komunitas, Maksudnya?

                Sejak Agustus tahun lalu saya menjadi penggagas satu komunitas yang bernama komunitas “Memberi”, ID Twitter komunitas ini adalah @memberiID, situs blognya Memberi.org. Awal ceritanya panjang, saat itu saya menulis buku yang berjudul Consumer 3000. Buku itu bercerita tentang konsumen kelas menengah di Indonesia. Sejak 2010 Indonesia mengalami revolusi kelas menengah yang tumbuh dengan pesatnya. Sekarang jumlahnya sudah 140 juta dan terus tumbuh tiap tahun sekitar 8 hingga 9 juta. Saya menulis tentang fenomena konsumen kelas menengah di Indonesia. Bandara penuh, jalanan macet, itu adalah fenomena – fenomena yang timbul ketika masyarakat sudah mampu beli tiket pesawat, semua orang sudah membeli mobil, orang mampu naik haji bahkan sampai mengantri hingga 10 sampai 15 tahun. Karena apa? Karena masyarakat kita sudah banyak yang kaya sekarang, terutama kelas menengah itu yang sangat besar. Cuma saya sedih luar biasa karena Indonesia merupakanmarket yang besar, bayangkan saja saat ini kita merupakan negara 16 terbesar, dan nanti tahun 2030 kita akan menjadi negara dengan market terbesar nomor 7 didunia, dengan predikat seperti itu sangat disayangkan jika yang menikmati itu semua adalah  Brand asing. Tadi sudah saya katakan bahwa Brand asing mendominasi hampir semua merk global sehingga jika kita tidak membangun kedaulatan Brand sendiri, maka kita bisa celaka, untuk itulah saya membuat buku Be the Giant. Perusahaan besar seperti Garuda, Telkom, Sosro, Mayora harus membangun kekuatan merk untuk bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Awalnya saya berfikir bahwa yang bisa mengalahkan Brand asing ini adalah Brand lokal besar, tapi kemudian saya berfikir perusahaan besar itu tidak sampai 5 ribu, 99.9% adalah UKM, jumlahnya ada 50 juta lebih dan mereka mengambil tenaga kerja yang sangat banyak. Jadi sebenarnya ekonomi Indonesia ditentukan oleh UKM. Makannya saya berfikir untuk memajukan UKM, sedangkan perusahaan besar seperti Garuda dan lainnya tidak perlu kita bantu karena mereka sudah memiliki kekuatan sendiri. Atas dasar itulah saya membentuk komunitas “memberi”, 1 platform menghubungkan satu perusahaan besar dengan yang kecil. Cara kerjanya adalah dengan mengetuk hati para profesional di perusahaan besar dimana dia sudah memiliki banyak pengetahuan di bidang keuangan, marketing, SDM dan service untuk berbagi kepada perusahaan yang lebih kecil. Perusahaan perusahaan kecil kita sangat menyedihkan, karena mereka tidak memiliki ilmu Marketing, SDM,Service. Jadi mereka selama ini berbisinis dengan menubruk – nubruk, yang dipikirkan hanya mencari omset. Makannya tidak heran jika umur mereka berkisar diantara 3 tahun.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 44              

19 November 2014

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT