Highlight

Wempy Dyocta Koto : Impact and Legacy

“Saya harus meninggalkan sesuatu yang ada pengaruhnya untuk Indonesia”, itulah sebuah komitmen dari seorang Wempy Dyocta Koto. CEO dari Wardour & Oxford ini memiliki kesan tersendiri terhadap Indonesia. Kecintaannya terhadap Indonesia tidak perlu dipertanyakan sekalipun puluhan

Wempy Dyocta Koto : Impact and Legacy

tahun hidupnya ia jalani di luar negeri.

Seseorang yang disandingkan dengan CEO tingkat dunia seperti Oprah Winfrey, Bill Gates, Tim Cook, Elon Musk, dan Donald Trump ini berharap bahwa kehadirannya dapat bermanfaat dan meninggalkan sesuatu untuk Indonesia baik ada atau tidak adanya ia di Indonesia atau di dunia. Legacy menjadi sesuatu yang penting baginya. Bersama Majalah Excellent, Wempy Dyocta Koto bercerita mengenai  keinginan hatinya untuk dapat berdampak bagi Indonesia.

 

Falling in Love with Indonesia

Wempy Dyocta Koto, pria yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat ini menghabiskan masa kecil dan pendidikannya di Australia. Sedari kecil sudah di luar negeri, maka tak bisa dipungkiri budaya barat dalam dirinya lebih besar daripada budaya ketimuran. Selain itu, pola pikirnya tentu berbeda mengingat 99% kehidupannya ia jalani di luar negeri. Namun, sejak kecil, putra Minang ini memastikan satu atau dua kali setahun pulang ke kampung halaman untuk belajar mengenai Indonesia. “Orang tua saja menanamkan kepada saya untuk tidak melupakan Indonesia. Saat saya pulang ke Padang Panjang, saya tidak diizinkan untuk menikmati masa liburan tapi saya dimasukkan ke sebuah sekolah untuk belajar tentang Indonesia. Jadi, jika anak-anak di Australia lagi liburan maka saya akan sekolah di Indonesia” cerita Wempy sambil tersenyum.

Menginjak dewasa, Wempy menjadi salah satu putra bangsa yang sukses di kancah internasional. Perjalanan kariernya dimulai ketika ia bekerja di American Express, salah satu perusahaan finansial terbesar di dunia sembari melanjutkan S-2 di University of Sidney. Selama 5 tahun berkarier di American Express, Wempy berkali-kali mengalami pergantian posisi mulai dari advertising, marketing, bagian operasional, dan bagian analisa. Bahkan, pernah dipindah tugaskan dari American Express di Australia ke American Express di Singapura. Pengalaman berkariernya pun terus meningkat, bekerja di Young & Rubicam, OgilvyOne Worldwide, kemudian naik menjadi direktur bisnis global yang berbasis di United States.

Memiliki pengalaman 15 tahun berkarier secara internasional, wempy selalu membantu perusahaan internasional untuk go international seperti Samsung, Nike, Adidas, Lenovo, dan lain sebagainya. Namun menjadi pengalaman yang menyedikan baginya ketika melewati jalan-jalan besar di Jepang, Amerika dan Eropa, tidak sekalipun dilihatnya produk dengan merek Indonesia. Menurutnya, sebagai orang Indonesia, sangat penting jika produk Indonesia bisa bersaing di kancah internasional. “Banyak perusahaan sudah pernah saya bantu untuk bisa berkembang ke luar negeri. Tapi untuk negara saya sendiri pun tidak. Saya berpikir, untuk apa saya berkontribusi untuk negara orang lain, tapi tidak berkontribusi untuk negara sendiri. Oleh karena itu, ketika saya mengambil keputusan untuk kembali ke Indonesia tahun 2012, saat saya di pesawat dari London menuju Indonesia, saya sudah niatkan matang-matang visi saya yaitu untuk membawa perusahaan-perusahaan Indonesia untuk go international.” tutur Wempy.

Namun, masih banyak orang yang bertanya-tanya, apa alasan Wempy untuk kembali ke tanah air melihat kesuksesan yang sudah diraihnya di luar negeri. Bahkan untuk masalah gaji pun pastinya lebih besar ketika ia bekerja di luar negeri. “Jujur, gaji yang saya dapatkan ketika bekerja di American Express itu sangat tinggi. Tahun 1997, di mana pertama kali saya bekerja di American Express, saya mendapatkan gaji per tahun 30.000 USD atau Rp 300.000,00. Anak umur belasan tahun, gajinya sudah 300 juta per tahun. Apalagi saat saya pindah ke London, itu gaji saya lebih besar lagi. Namun, pilihan saya untuk kembali ke Indonesia buka lagi masalah finansial. Siapa si yang ingin pindah dari London/Australia untuk rupiah? Tetapi saya katakan sekali lagi, tidak semua keputusan yang seseorang ambil itu terkait dengan finansial. Namun, jatuh cinta dengan Indonesia menjadi salah satu alasan saya untuk kembali ke tanah air. Tahun 1997 menjadi tahun yang tidak bisa saya lupakan karena di tahun tersebutlah saya jatuh cinta dengan Indonesia. ” Ucap Wempy.

 

Ingin tahu kelanjutannya? Informasi selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 49. Majalah Excellent edisi 49 bisa Anda dapatkan dalam versi CETAK dan Digital (Scoop, Scanie, WayangForce atau ExcellentMediaStore). Jika ingin bentuk cetak, Anda dapat temukan di Toko Buku Gramedia Se-Jabodetabek atau bisa melakukan pemesanan dengan menghubungi 021-29034288 atau 0851 0011 2009 (Sara).

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT