Highlight

Ellies Sutrisna: Hidup untuk Kepentingan Orang Banyak

Kisah hidup peraih Kartini Award 2013 ini sungguh sangat beragam dan inspiratif. Lahir sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, sejak kecil Ellies sudah terbiasa hidup dalam suasana serba sederhana dan penuh keterbatasan. “Makanan mewah keluarga kami saat i

Ellies Sutrisna: Hidup untuk Kepentingan Orang Banyak

tu adalah telur rebus yang dinikmati seminggu sekali. Itu pun mesti dibagi delapan, dipotong rata menggunakan benang,” kenang Ellies. “Namun, biarpun begitu, hidup kami happy-happy aja,” tambahnya sambil tertawa.        

Lahir dari keluarga buruh, selepas lulus STM semua kakak laki-laki Ellies bekerja di pabrik mengikuti jejak orangtua mereka. Hingga suatu ketika, saat Ellies duduk di bangku kelas 4 SD, sang ayah berkata “Anak buruh bukan berarti harus menjadi buruh. Mata rantai ini harus segera diputus!” Beranjak dari pemikiran itu, bersama dua orang kakak perempuannya, Ellies pun dibawa ke Jakarta. “Saat itulah untuk pertama kalinya kami keluar dari desa”.

Di Jakarta, saat Ellies sudah berseragam putih-biru, sang ayah dipanggil Yang Maha Kuasa selama-lamanya. Keadaan itu memaksa Ellies remaja untuk turut membantu ekonomi keluarganya. Setiap malam ia membuat kue lalu keesokan paginya kue-kue tersebut dibungkus ke dalam plastik yang direkatkan api lilin. Ellies membawa kue-kue itu dalam perjalanan ke sekolah dan menitipkannya di sejumlah warung dengan sistem konsinyasi. Hasil penjualan kue tersebut Ellies ambil siang hari untuk kemudian dibelikan bahan kue lagi.

Terbiasa bekerja keras membawa manfaat besar saat lulus SMA Ellies melanjutkan studinya di Australia. Dengan berbekal tiket sekali berangkat dan uang saku secukupnya, sejak awal masuk kuliah Ellies sudah bekerja part-time sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran Chinese Food.Tak hanya itu, untuk survive di Negeri Kanguru Ellies pun sempat menjadi loper koran, tukang antar susu segar, hingga sales produk-produk kecantikan. “Selama di Australia, kerja sampingan saya paling lama ya waktu di Fish Market, 3 tahun. Saya bekerja dari pukul 4 pagi hingga pukul 7 malam. Mula-mula sebagai pelayan, lalu menjadi kasir, dan akhirnya menjadi koordinator staf.”

Pengalaman bekerja sebagai pelayan pasar ikan—menyeret container dengan beban 100 kg, menghirup bau amis yang menyengat—membentuk pribadi Ellies menjadi perempuan tangguh yang tak mengenal kata menyerah. Maka bukan hal kebetulan saat pulang ke Indonesia, lulusan University of Wallongong New South Wales, Australia ini memiliki karir cemerlang di perusahaan tempatnya bekerja.

 

Ingin tahu kelanjutannya? Informasi selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 50. Majalah Excellent edisi 50 bisa Anda dapatkan dalam versi CETAK dan Digital (Scoop, Scanie, WayangForce atau ExcellentMediaStore). Jika ingin bentuk cetak, Anda dapat temukan di Toko Buku Gramedia Se-Jabodetabek atau bisa melakukan pemesanan dengan menghubungi 021-29034288 atau 0851 0011 2009 (Zulkifli).

admin

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT