Highlight

Rudy Salahuddin: Koordinasi adalah Tantangan Paling Besar

Menduduki posisi deputi adalah pencapaian jabatan tertinggi dalam karir seorang Pegawai Negeri. Siapapun yang menduduki posisi tersebut tentu harus memiliki prestasi, pengalaman, serta kualifikasi yang mumpuni. Pada rubrik Excellent Executive kali ini Majalah

Rudy Salahuddin: Koordinasi adalah Tantangan Paling Besar

Excellent menghadirkan sosok Dr. Ir. Rudy Salahudin, MEM., selaku Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif Kewirausahaan dan Daya Saing Koperasi dan UKM.

Bagaimana perjalanan hidup beliau dalam menapaki karir hingga menjadi seorang Deputi? Apa tantangan yang beliau hadapi? Simak kisahnya dalam liputan berikut.

                                               

Bisa Bapak ceritakan kehidupan masa kecil dan pendidikan Bapak hingga remaja?

Saya lahir di kalangan keluarga PNS sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Ayah dan ibu berasal dari suku Komering di Sumatera Selatan, namun sejak kecil saya sudah tinggal dan bersekolah di Jakarta. Saat kecil saya termasuk anak yang bandel. Teman-teman pun menjuluki saya sebagai anak yang jail. Tapi kebandelan dan kejailan saya di masa lalu itulah yang justru banyak membantu saya untuk survive menjalani kehidupan.

Menginjak remaja, saya kuliah di jurusan Teknik Sipil Universitas Indonesia. Setelah lulus, saya langsung melanjutkan pendidikan S-2 jurusan Construction Management and Engineering Economics di George Washington University, Washington DC, AS.

Apa yang biasa Bapak lalukan saat kuliah dulu?

Saat kuliah, selain belajar saya juga aktif berorganisasi. Saya pernah menjadi ketua Ikatan Mahasiswa Sipil Universitas Indonesia dan bergiat di Senat serta di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), khususnya renang dan polo air. Kuliah saya sempat juga agak terhambat karena sering kali berbenturan dengan jadwal saya di Pelatnas. Waktu mahasiswa, saya adalah atlet nasional polo air. Sebelumnya saya juga pernah ikut taekwondo. Namun semua kegiatan itu berhenti saya lakukan sejak bergabung dengan Bappenas.

Wow, sebelum menjadi PNS ternyata Bapak adalah seorang atlet. Nah, bagaimana Bapak bisa bergabung dengan Bappenas?

Setelah lulus S-2 saya melamar sebagai PNS dan lolos mengikuti seleksi. Tapi sebelumnya saya sempat juga membantu usaha keluarga di ready mix beton. Salah satu alasan saya dulu kuliah di Sipil memang untuk membantu mengembangkan usaha keluarga. Namun saat itu tiba-tiba terlintas di kepala bahwa menjadi PNS sepertinya enak juga, karena paling tidak saya bisa meniti karir dari bawah.

Cita-cita saya jika jadi PNS memang hanya ingin menjadi pegawai Bappenas. Kalau tidak di Bappenas, saya tidak mau. Saya termotivasi masuk Bappenas karena pada masa Orde Baru Bappenas adalah lembaga yang bergengsi. Selain itu, kesempatan saya untuk sekolah lagi juga lebih terbuka lebar ketimbang saya bergabung dengan lembaga lain. Dan benar, setelah dua tahun saya bekerja, saya dikirim tugas belajar ke luar negeri untuk mengambil S3.

Apa kesibukan Bapak saat dan setelah dikirim tugas belajar ke luar negeri?

Saat saya mengambil gelar doktor, saya sempat bekerja secara internship di World Bank. Saat itu ada program Knowledge Intern Program selama 1 tahun (1999-2000). Tahun 2002 studi doktoral saya selesai. Setelah pulang ke Indonesia, atasan memindahkan saya dari bagian transportasi ke bagian postel (Pos dan Telekomunikasi). Dari postel dipindahkan lagi ke bagian pemanfaatan energi. Saya dipercaya untuk mengurus sektor gas. Saya sempat kecewa karena diberi tugas yang tidak sesuai dengan basic pendidikan saya dulu. Tapi akhirnya saya merasa bahwa itu adalah anugerah. Saya mendapat hikmah untuk bisa mempelajari banyak bidang.

Nah, soal mempelajari banyak bidang ini ternyata memang sudah sejak dulu saya lakoni. Saat awal-awal jadi PNS, saya juga “nyambi”. Pulang dari kantor, saya mengajar. Saya bekerja sebagai dosen pascasarjana di beberapa universitas, antara lain di Universitas Pelita Harapan, Universitas Budi Luhur, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN),dan Universitas Mercu Buana. Sampai saat ini, saya masih terdaftar sebagai dosen di Universitas Mercu Buana. Selain itu saya juga bekerja sebagai penyiar di Radio One yang sekarang berubah nama menjadi Jak FM. 

 

Ingin tahu kelanjutannya? Informasi selengkapnya dapat Anda baca di Majalah EXCELLENT edisi 50. Majalah Excellent edisi 50 bisa Anda dapatkan dalam versi CETAK dan Digital (Scoop, WayangForce atau ExcellentMediaStore). Jika ingin bentuk cetak, Anda dapat temukan di Toko Buku Gramedia Se-Jabodetabek atau bisa melakukan pemesanan dengan menghubungi 021-29034288 atau 0851 0011 2009 (Zulkifli).

admin

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT