Highlight

Peningkatan Mutu Wirausahawan Dalam Dies Natalis ke – 54 Universitas Udayana

Bersaing di era MEA adalah suatu hal pasti bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Maka agar dapat bersaing dan berkompetisi dalam skala tersebutpemerintah dan berbagai pihak yang berkewajiban – melakukan upaya-upaya penyokongan perbaikan dan penggembl

Peningkatan Mutu Wirausahawan Dalam Dies Natalis ke – 54 Universitas Udayana

engan terhadap SDM yang ada.

Tercatat dalam Tri Darma perguruan tinggi, bahwa perguruan tinggi mestilah menciptakan generasi yang mendidik, meneliti, dan mengabdi pada masyarakat. Oleh karena itu, dalam memperingati Dies Natalis-nya yang ke – 54, Universitas Udayana mengadakan Seminar Kewirausahaan dengan tema “To Be Excellent Entrepreneurs Toward Asian Economic Community.

“Upaya pengambilan tema ini bertujuan membangun sinergi untuk Universitas Udayana yang unggul, mandiri dan berbudaya – sekaligus mendekatkan diri pada masyarakat, sehingga dapat beriringan membangun – baik pembangunan di daerah, nasional, maupuninternational,” kata Alit Susanta Wirya, Ketua Dies Natalis, saat membuka acara tersebut di Bali, beberapa saat yang lalu. 

Alit menambahkan, bahwa dibutuhkan kegiatan yang berkesinambungan untuk membangkitkan wirausaha muda di bali, untuk dapat berkiprah di tingkat tersebut.

Seminar ini menghadirkan beberapa pakar dan praktisi kewirausahaan, di antaranya adalah Rudy Salahudin (Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif Kewirausahaan dan Daya Saing Koperasi dan UKM), Ellies Sutrisna (Business Coach dan Founder dari Excellent Group), serta Roy Darmawan (Kemenko Perekonomian RI). Kegiatan ini dihadiri oleh dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Prof. Suastra (Pembantu Rektor IV) yang mewakili sambutan rektor menghimbau – agar para peserta menggali sebanyak mungkin gagasan dan ide dalam berwirausaha, serta mau menyebarkannya pada orang lain.  

Sementara Ketut Sutrisna Dewi (Ketua Inkubator Business Universitas Udayana) dalam keynote speech-nya memberikan gambaran wirausaha muda di Universitas Udayana, dengan proses pembentukan program, penyimpangan dana, serta prestasi yang telah diraih.

Menurutnya, adalah sebuah tantangan bagi perguruan tinggi untuk memadukan atmosfir akademik dengan atmosfir kewirausahaan. “Perguruan tinggi kini dituntut bukan hanya melahirkan sarjana dan pekerja, tapi juga wirausahawan,” paparnya.

Masih menurut Dewi, bahwa program pengembangan wirausaha di Universitas Udayana dimulai sejak 2009. Baru kemudian muncul program inkubator bisnis pada 2010. Kini 9 dari 13 fakultas telah mempelajari mata kuliah kewirausahaan. “Kita masih perlu bersinergi mendatangkan wirausahawan, mendatangkan narasumber, tidak ada satupun bisa diraih hanya dengan belajar di dalam kelas saja,” katanya.

Masuk ke materi yang pertama, Rudy Salahudin memaparkan pengantar yang cukup jelas kepada peserta mengenai program-program pemerintah yang terkait dalam peningkatan kewirausahaan. Menurut Rudy, Indonesia merupakan termasuk  1 dari 24 tempat paling tepat untuk memilai usaha di dunia.

“Indonesia memiliki potensi dalam pengembangan berwirausaha. Namun kenyataannya, masyarakat selalu terbentur akses pendanaan dan pasar. Melihat ekosistem kewirausahaan tersebut, untuk menghindari kegagalan kita mesti masuk ke inkubator. Dengan adanya inkubator, mereka bisa mencari bentuk agar bisa masuk ke step selanjutnya,” kata Alumni GeorgeWashington University, Amerika Serikat ini.

 

“Dalam usaha membantu Start-Up, pemerintah memberikan Izin Usaha Mikro Kecil atau IUMK dengan bunga 9%, Kredit Usaha Rakyat atau KUR dengan bunga lebih rendah, yakni 5 %. Adalagi KUR B, Kredit Usaha Rakyat Berorientasi Ekspor bagi UKM untuk menunjang perusahaan ekspor. Kini, pemerintah tengah mempersiapkan program bagi Star-Up khusus teknologi IT dan menciptakan agregator dan konsolidator untu menyalurkan produk-produk UKM,” tambahnya.

Sementara itu, Ellies Sutrisna, CEO Excellent Group, mengisi materi pasca istrahat siang. Dengan gaya seorang Business Coach, Ellies memulai materi sesi 2 ini dengan kisah perjalanan karir yang dimulainya di Australia. Dengan menyuguhkan pengalamannya itu, ia memberikan satu gambaran menyeluruh pada peserta mengenai konsep wirausahawan yang sukses.

“Saya melihat perbedaan perusahaan besar yang omsetnya milyaran hingga triliyunan. Saya pun mengenal tingkat UKM yang bekerja hanya di rumah. Saya tahu, perusahaan yang kini memiliki omset milyaran itu tidaklah ‘menjadi’ secara tiba-tiba, namun melalui sebuah proses, cikal bakalnya sama – dari suatu usaha yang kecil. Jadi saya sadar dan optimis bahwa kita bisa sukses asal mau berproses.” Tuturnya menyemangati.

Masih menurut Ellies, orang sukses memiliki pola pikir yang berbeda. Begitu pun dalam mengambil keputusan dan dalam mengambil tindakan. Oleh sebab itu, Ellies menyuguhkan konsep Be the Best,  Do the Best, Have the Best. Best yang berarti Brave, Excellence, Strong dan Thankful. Sedangkan Do the Best berkolerasi dengan Work Hard, Work Smart, Work Fast, Work With Heart.

Di era global ini, menurutnya kita harus membangun jaringan dan saling mensuport. “Maka mulailah dari produk lokal, ” tutur penulis buku “12 Jurus Jitu Meroketkan Bisnis” ini.

Roy Darmawan, melengkapi materi seminar hari itu dengan motivasi lewat kisah-kisah yang menggugah. Dimulai dari kisah Prof. Dr. Muhammad Yunus, Bangladesh– yang  bersedih karena tidak bisa menjawab kemiskinan – hingga kisah Wortel, Telur, dan Kopi. Semua kisah ini merupakan elegori dalam menuntun peserta kepada suatu sifat dan capaian dalam berwirausaha.

“Cerita tersebut menunjukkan sosial entrepreneur, di mana wirausaha berkorelasi positif terhadap pembangunan bangsa dan negara,” papar Dosen FEB UI itu.

Di akhir sesi ini, Roy pun melakukan sedikit simulasi untuk menunjukkan bahwa untuk menjadi wirausahawan, kita mesti melakukan perubahan mindset. “Berpikir entrepreneurial sangat berperan untuk kita menyelesaikan capaian-capaian perubahan. Apabila kita tidak memberikan nilai tambah terhadap perubahan, maka kita akan kesulitan menghadapi tantangan yang begitu besar,” tambahnya.

Tak lupa, Roy pun membacakan dua puisi “Kusambut Dengan Cinta” karya OG Mandino dan “Pertemuan Mahasiswa” karya WS Rendra sebagai penutup sesi seminar hari itu. Penyerahan piagam oleh pihak panitia pada pembicara pun dilayangkan, sementara sebuah pin merah bertuliskan “Your Excellent” telah dikutip di dada para peserta. (Wishu Muhamad)

Wishu Muhamad

Artikel Lainnya

artikel

Nukegraphic - Web Design and Development
Komunitas Excellent
Seminar Excellent
Coach Ellies
twitter Excellent
Facebook EXCELLENT BUSINESS MAGZ
Scanie
TV Excellent
Excellent mall
BEST RAJA AMPAT